“Hidup penuh warna,” adalah sebuah ungkapan pepatah untuk menyatakan kebahagiaan kehidupan. Bagi remaja pecinta, mereka juga punya cara tersendiri menyatakan sesuatu atas nama cinta. Misalnya, warna merah muda atau pink, selalu ditujukan sebagai warna kasih sayang, merah tua untuk ungkapan cinta telah lama bersemi, ungu untuk menyebut orang pertama jatuh cinta sehingga remaja sekolahan cenderung memilih kertas surat atau amplop warna ungu untuk mengirimkan surat cinta pertamanya--anak-anak sekarang saja, karena dunia sudah canggih, cara mengungkapkan isi hati tinggal misscall beberapa kali, kirim SMS, selesai dah…
Warna juga menjadi simbol bagi aparat keamanan. Polisi misalnya, lebih cenderung berwarna coklat, sedangkan tentara lebih didominasi warna hijau (ini warna aparat keamanan di Indonesia, negara lain bisa jadi menggunakan warna yang lain lagi). Selanjutnya, aparat laut (angkatan laut) lebih didominasi warna putih abu-abu. Di lain pihak, Pegawai Negeri Sipil pun di negara ini memiliki warna khas tersendiri, umumnya coklat muda, kecuali pekerja Dinas Kebersihan, mereka dikhaskan dengan warna kuning sehingga disebut juga “pasukan kuning”.
Warna sudah menjadi pilihan, demikian barangkali. Makanya kantor-kantor LSM pun ikut memiliki khas warna tersendiri, misalnya Walhi ditandai dengan warna hijau daun agar mencirikan pegiat lingkungan hidup. Demikian halnya dengan WH, Satpol PP, dan Polhut. Sementara itu, para pegiat seni lebih menyolokkan warna hitam.
Singkatnya, warna menjadi penggambaran ciri khas sesuatu dari yang memilih warna itu sehingga ada yang mengatakan kepada orang yang suka warna kuning atau pink dikatakan memiliki sifat melankolis. Merah, akhirnya dilambangkan sebagai keberanian dan putih sebagai pertanda bersih/suci.
Dalam dunia politik pun, mereka memilih warna khas tersendiri, misalnya Golkar dengan warna kuning, PKS dengan hitam-putih-coklat muda, PPP dengan hijau tua, PAN dengan hijau laut, dan sebagainya. Demikian pula dengan partai lokal. PA akan ditandai dengan merah tua, PRA dengan merah muda, SIRA dengan biru muda.
Ngomong-ngomong, haba be haba, kemarin, pusat Kota Banda Aceh disemuti dengan sebuah warna pula. Warna itu bermula dari hati, yakni warna kebahagiaan. Ada pula yang menyebutnya dengan warna keceriaan, ketakjuban, keharuan, atau warna apalah yang menurut Anda cocok untuk menamsilkan keadaan kemarin, silakan saja. Yang jelas, warna itu tiba-tiba menyesaki halaman Mesjid Raya Baiturrahman, menyambut sebuah kedatangan—maaf, kepulangan maksud saya—seorang yang terhormat. Ureueng Aceh menyapanya dengan “Wali”.
“Apakah warna Aceh adalah merah?” celetuk seseorang di tengah keramaian kemarin. Kelihatannya dia seorang wartawan bule.
Tak ada jawaban dari pertanyaan bule yang sedang menenteng kamera besar itu. Malah, seseorang lainnya bertanya semakin aneh. “Apakah merah warna favorit Wali?” Pertanyaan ini pun tak ada yang menjawab meskipun yang mendengar tanya itu sangat banyak. Halaman Mesjid Raya semakin “merah”, di sela-selanya menjulur beberapa warna hitam, warna baju yang dikenakan orang-orang. Meskipun ada yang memakai baju warna putih, hijau, atau lainnya, yang kelihatan tetap yang warna hitam dan merah.
Kembali ke pertanyaan tadi, apakah Wali hanya milik si merah? Lantas, ke mana warna-warna lain yang ada di Aceh? Ah, mungkin salah satu si penanya tadi benar, warna favorit Wali sekarang adalah merah. Tapi, kok bajunya hitam dan sapu tangannya putih ya??? Kira-kira…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar