Masih ingat haba “Bendera” yang saya tulis beberapa waktu lalu? Itu, cerita tentang penurunan bendera kelompok sendiri demi mencari simpati. Nah, kini irama itu berkisar pada tempat hunian. Mau tahu ceritanya?
Di kampung bernama Lamsulet, sedang terjadi pemilihan kepala desa. Kendati isi kampung itu tidak lebih dari 50 KK, pembentukan kubu-kubu ingin memenangkan calonnya sebagai kepala desa terbentuk hingga enam kelompok. Masing-masing kelompok memiliki markas tersendiri.
Jadwal pemilihan kepala desa beserta perangkatnya semakin dekat. Si Apa Uda’ mulai susun strategi. Mulanya dia perintahkan anak buahnya menyebarkan selebaran tentang betapa bagus dan hebatnya perjuangan dia jika kelak terpilih menjadi kepala desa. Tak berhasil lewat selebaran, dimanfaatkannya kecanggihan teknologi. SMS demi SMS mulai beredar yang memaparkan bahwa kelompok Apa Uda’ adalah pejuang kampong yang akan memajukan kampong Lamsulet.
“Tahue leumo deungon taloe, tahue manusia deungon akai”. Mulailah Apa Uda’ main akal-akalan. “Aku akan meninggalkan markaz kita malam ini. Aku tidak tidur di markaz. Maka, laksanakanlah rencana kita,” ucap Apa Uda’ berwasiat kepada anggotanya.
Seperti yang direncanakan, malam itu markaz kumpulan Apa Uda’ terbakar. Anehnya, hanya sedikit, tak habis selembar pintu pun. Padahal, markaz dia berkonstruksi kayu. Kabarnya, kebakaran markaz Apa uda’ lekas diantisipasi warga. Entah siapa pula yang membawa kabar kalau markaz Apa Uda’ terbakar malam itu sehingga saat api baru saja menjulurkan lidahnya, orang-orang kampung sudah berduyun di depan markaz tersebut.
“Ini kerja orang-orang yang tidak mencintai perdamaian,” ujar Apa Uda’ saat diwawancara wartawan.
Belum hilang dalam ingatan keluh kesah warga kampung Lamsulet tentang terbakarnya markaz Apa Uda’, keesokan harinya, gudang Apa Uda’ pula yang dilahap si jago merah. Modusnya serupa, saat api baru memercikkan bunganya, orang-orang kampung sudah berduyun menyiram air ke gudang tersebut. Selamatlah segala harta Apa Uda’ dalam gudang itu.
Marahkah Apa Uda’? Tidak! Dia malah mengeluarkan kalimat serupa saat markaznya terbakar. “Ternyata orang-orang yang tidak suka dengan perdamaian di kampung kita masih memburu kami. Kami tidak marah pada orang yang melakukannya. Hanya sangat kita sayangkan, masih ada yang tidak mencintai perdamaian,” kata Apa Uda’ yang lagi-lagi menjual kata “damai”.
Cerita belum berakhir sampai di sini. Esok harinya, giliran rumah Apa Uda’ yang terbakar. Keanehan kembali terjadi, Apa uda’, istrinya, anak-anaknya, beserta dokumen-dokumen berharga milik dia masih selamat. Pasalnya, yang terbakar rumah bagian depan, sedangkan istri, anak, dan dokumen-dokumennya ada di kamar belakang. Padahal, biasanya semua mereka di kamar depan. Dan Apa Uda’ hanya bilang, “Ini cobaan bagi saya.”
Begitulah kasus bakar membakar di kampung Lamsulet yang penuh sulet itu. Warga yang semula menaruh simpati dengan terbakarnya markaz Apa Uda’ menjadi mulai kurang percaya dengan kasus pembakaran tersebut.
“Paling semua itu dia sendiri yang bakar supaya kita masyarakat ini menaruh simpati pada dia. Buktinya, semua selamat dan tidak benar-benar terbakar seperti kejadian pembakaran di kampung-kampung lain,” kata Pang Dolah berkomentar.
Seorang wartawan yang bertugas meliput di kampung itu ikut berkata. “Jika demikian adanya, kami wartawan tak perlu lagi harus bersusah payah meliput markaz, gudang, dan rumah Apa Uda’ meskipun dia suruh kami liput,” katanya. Ada pula yang ikut berceloteh begini, “Kita tunggu saja Apa Uda’ membakar kampungnya, jika memang dia ingin simpati rakyat.” Entahlah, entah siapa membakar siapa…
Ureueng aréh memang hantom kanjai, ureueng le akai hana binasa. Namun, daripada bakar membakar, bukankah lebih baik memelihara yang sudah ada? Hom hai… Apa Uda’ sedang main petak umpet rupanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar