Peristiwa dahsyat akhir Desember 2004, gempa bumi disusul gelombang tsunami yang berpusat di pantai Barat Aceh telah dinabalkan dunia sebagai musibah internaional sepanjang abad modern. Boleh jadi sebagai musibah terdahsyat sepanjang pascazamannya para nabi. Kendati ada yang menyebutkan tsunami sudah pernah terjadi lima ratus abad silam, namun tak ada bukti konkret untuk dipercayai. Maka, membukukan sejumlah kenangan tsunami 2004 merupakan upaya pembuktian sejarah bahwa di Aceh pernah terjadi musibah terdahsyat sepanjang abad.
Sejumlah kerusakan melanda Bumi Iskandar Muda akibat musibah itu, mulai kerusakan infrastruktur, sarana dan prasarana, hingga kerusakan moral. Data Plan Internaional menyebutkan lebih dari setengah penduduk Aceh berada di bawah kemiskinan pascamusibah. Karena itulah, ada yang menyebutkan peristiwa terdahsyat ini menambah degradasi sosial kehidupan di Aceh sebagai pelengkap penderitaan rakyat Aceh yang selama dua puluh tahun terkahir dikecam murung di bawah tekanan koflik antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka.
Namun, bukan suatu kesalahan pula bila kita sebut peristiwa tsunami ini sebagai pengulang kegemilangan Aceh setelah sejarah Iskandar Muda. Hal itu kita lihat dari beberapa pembangunan di Aceh. Beragam bantuan kemanusiaan mengalir lekas menjadikan Aceh sumber dana. Sejumlah NGO lokal, nasional, dan internasional pun tercipta. Menurut data Plan Internasional, sampai Maret 2006, terdata 124 NGO internasional dan 430 NGO lokal.
Kecuali itu, yang membuat saya berasumsi Aceh akan mencapai kegemilangannya kembali pascamusibah dahsyat itu dapat dilihat delapan bulan setelah musibah berlalu; RI dan GAM resmi berselaman (baca; damai).
Mengalirnya bantuan ke Aceh, ditekennya MoU RI dan GAM, menjadikan Aceh kembali hidup dan lepas dari kemurungan. Namun, tak cukup sampai di situ, karena pengaliran bantuan tersebut tidak menutup kemungkinan lahirnya agen-agen baru pencipta korupsi di negeri ini. Menyikapi itu, LSM antikorupsi pun ikut bertaburan. Di tubuh BRR sendiri--induknya para NGO--juga terdapat kelompok yang menyidiki korupsi. Mereka beri nama dengan Satuan Kerja (Satker) antikorupsi BRR NAD-Nias.
Semua peristiwa tersebut, baik kehancuran maupun proses rehab-rekon, bila tidak didokumentasikan akan menjadi sebuah dongeng. Seperti saya sebutkan pada pembuka tulisan ini, disebutkah sudah pernah terjadi tsunami ratusan abad silam, tapi tidak dapat dibuktikan. Maka, penting mendokumentasikan tsunami kali ini sebagai sebuah cerita sejarah.
Pendokumentasian dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik visual, audio, maupu audioa visual. Dokumentasi sederhana adalah menuliskannya menjadi sebuah buku. Itu pula yang dicobahadirkan Plan Internasional dalam tindak-tanduknya selama berada di Aceh dalam rangka memberi bantuan kemanusiaan.
Beragam cerita di atas, mulai dari minggu-minggu pertama pascagempa sampai dengan tahun ini, serta apa-apa program kerja Plan, dibeberkan secara rinci dalam buku yang diberi judul “Ranub Lampuan Plan Aceh”. Buku yang diterbitkan oleh NGO Plan Internasional itu memaparkan kiprah mereka sebagai salah satu lembaga non-pemerintah yang membantu pemulihan Aceh pascagempa dan tsunami.
Secara detail buku tersebut membeberkan apa saja yang telah dilakukan oleh Plan; hasil, harapan, hambatan, dan tantangan, semuanya dipaparkan secara rinci dan jelas. Memperkuat data mereka, buku itu juga turut megutip beberapa fakta yang dikumpulkan oleh NGO lain, seperti terlihat pada halaman 27. Memperkuat hasil survey mereka terhadap bantuan rumah korban tsunami, Plan mengutip hasil telusuran UN-Habitat.
Plan Internasional sebagai sebuah lembaga kemanusiaan internasional yang fokus pergerakannya di dunia anak-anak mencoba menerbitkan buku laporan pergerakan atau kiprah mereka dengan menghadirkan karikatur. Hal ini tentunya untuk menarik pembaca. Apalagi, fokus mereka memang dunia anak. Membaca cerita bergambar memang sudah menjadi kegemaran anak-anak, bahkan yang dewasa pun ada yang suka. Maka, serasi sekali laporan itu dipadukan dengan kartun-kartun lucu di lembarannya.
Sangat jarang kita temui sebuah buku laporan program kegiatan diterbitkan dengan melampirkan cerita-cerita bergambar. Inilah yang dicoba tawarkan Plan sehingga menjadi menarik untuk disimak. Hal ini membuat buku tersebut tidak kelihatan serupa laporan lembaga kepada masyarakat, melainkan sebuah cerita perjalanan yang asyik untuk diikuti. Bagi anak-anak sendiri, gambar tersebut menjadi perhatian mereka. Apalagi, gambar-gambar itu turut dilampirkan cerita dan dialog singkat. Cerita yang dihadirkan gambar-gambar itu memiliki keterkaitan dengan narasi laporan. Maka, buku ini layak kita sebut sebagai sebuah semi komik modern.
Tidak semua orang suka mengikuti atau membaca buku laporan perjalanan tugas sebuah lembaga, apalagi lembaga semacam NGO. Asumsi bahwa sebuah laporan cenderung ditulis dengan gaya monoton, hanya dapat dimengerti oleh orang-orangnya, sudah mendarahdaging di benak kita. Namun, kehadiran buku Plan ini mencoba menapikan asumsi itu. Ia mencoba menawarkan ilustrasi gambar komik yang hadir hampir di setiap lembarannya. Jika halaman di kanan adalah narasi atau isi cerita, di halaman kiri akan diberikan ilustrasi menarik. Jika dua halaman berisi narasi, pada dua halaman berikutnya diberikan ilustrasi. Ilustrasi-ilustrasi tersebut juga menghadirkan narasi singkat. Semua itu, semata-semata untuk menarik pembaca shingga asumsi membaca laporan program adalah monoton dicobahancurkan oleh Plan lewan “Ranub Lampuan”. Semakin menarik lagi, kramagung (narasi) dan wawancang (dialog) dalam cerita bergambar dihadirkan berbau satire. Hal ini menambah ketertarikan pembaca untuk membalik halaman berikutnya guna mengikuti cerita buku tersebut.
Membaca cerita gambar di dalam “Ranub Lampuan” ini kadang juga membuat kita tersenyum sendiri, sebab di samping gambarnya yang berupa karikatur lucu, narasi dan dialognya juga bernada sindirian satire. Apa yang dipaparkan dalam laporan tentang kejanggalan-kejanggalan sosial, pada ilustrasinya dipertegas lagi dengan gambar dan narasi menyindir. Bahkan, beberapa ilustrasi sengaja diciptakan mengandung keidentikan. Misalkan, koruptor identik dengan tikus, maka gambar sang koruptor dibuat berwajah menyerupai tikus.
Selain itu, sindirian satire berupa narasi dan dialog dapat dilihat seperti pada halaman 18, 24, 25, 37 dan beberpa halaman lainnya. Hampir di setiap ilustrasi, sindiran satire dilontarkan, baik kepada pihak pendatang maupun bagi masyarakat dalam sendiri.
Di samping karikatur sebagai ilustrasi, dalam buku itu juga dilampirkan data-data dalam bentuk tabel dan diagram batang. Hal itu boleh dilihat pada beberapa halaman, seperti halaman 23; tabel kerusakan, kebutuhan, dan kemajuan yang dicapai Aceh. Kemudian halaman 34 dan 35; diagram persentase kondisi gizi anak-anak.
Melengkapi data dan hasil kerja demi memudahkan pembaca, beberapa halaman bagian akhir turut dilampirkan kamus singkatan yang dipakai dalam cerita buku itu, tabel kerangkan kerja, framework, logical framwork, impact monitoring, matrik integrasi, dan grafik capaian yang dilakukan Plan. Hal ini tentu menjadi berguna bagi beberapa lembaga lain dalam membuat kerangka kerja.
Di samping itu, beberapa upaya pengurangan terhadap risiko bencana juga turut menghiasi buku ini. Jumlah dana yang dikeluarkan Plan selama membantu kemanusiaan di Aceh, pun turut melengkapi “Ranub Lampuan”. Gagasan-gagasan tentang upaya pengurangan akibat yang ditimbulkan suatu bencana di Aceh dipaparkan secara per poin pada halaman 67. Kemudian diperkuat dengan pemaparan apa-apa yang telah berhasil dan tidak berhasil dilakukan Plan di Aceh dalam menjalankan programnya.
Artinya, Plan mencoba tidak menutup-nutupi langkah mereka di Aceh, meskipun hal yang tidak berhasil mereka lakukan. Hal ini tentunya salah sat upaya Plan menghindari dari tindak korupsi. Maka, tak salah jika saya katakan yang dilakukan Plan merupakan sebuah sikap yang patut ditiru lembaga lain, bahwa tidak perlu menutup-nutupi apa yang sudah, sedang, dan tidak dapat dilakukan.
Pada akhirnya, saya hendak mengatakan “Ranub Lampuan Plan Aceh” bukan sekedar laporan kerja biasa, tetapi juga boleh jadi cerita perkembangan Aceh pascatunami yang tokoh utamanya adalah Plan, sebuah lembaga kemanusiaan bergerak di bidang anak-anak. Karena itu, buku ini menarik dibaca oleh siapa saja, baik bagi anak-anak maupun orang dewasa, juga bagi pekerja/ lembaga kemanusiaan.
Beberapa Catatan
Kendati “Ranub Lampuan Plan Aceh” menarik dibaca siapa saja, ada beberapa hal yang menjadi catatan,
1. Sebagai sebuah buku yang sengaja dihadirkan untuk semua kalangan, tentunya penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar menjadi perhatian. Ada beberapa penulisan kosakata baku bahasa Indonesia yang belum dipahami oleh si penulis buku. Barangkali jika penulisan yang salah terdapat pada cerita gambarnya, tidak terlalu menjadi persoalan. Namun, menjadi terganggu ketika didapati pada laporan narasinya.
Beberapa kata tersebut yang berhasil saya tangkap, seperti; kerjasama (seharusnya kerja sama), resiko (mestinya risiko).
2. Kesalahan serupa juga terdapat pada penggunaan huruf kapital. Kata “tsunami” tidak mesti selalu diawali dengan huruf kapital, kecuali ia di awal kalimat. Penggunaan kapital yang salah juga terlihat pada penulisan nama geografi atau tempat. Misalnya, Kabupaten Aceh Besar. Huruf “K” pada kata kabupaten mesti ditulis kapital, karena dia diikuti nama geografi.
3. Selanjutnya, penulisan “di” sebagai kata depan (preposisi) mesti dipisahkan dengan kata yang mengikutinya, kecuali “di” sebagai awalan (afiksasi). Dalam buku itu, boleh dilihat salah satunya pada halaman 31. “Gizi untuk anak-anak di bawah (ditulis: dibawah) lima tahun dan di atas (ditulis: diatas) lima tahun.
4. Masih mengenai kebahasaan, pada halaman pembuka terdapat bait kata yang ditulis dengan bahasa Aceh. Penulisan tersebut masih terdapat kesalahan. Seyogyanya bertanya dahulu kepada yang mahir bahasa Aceh jika memang hendak melampirkan bahasa Aceh.
Catatan mengenai kebahasaan ini menjadi penting diketahui, karena buku tersebut bukan karangan fiksi yang cenderung mengabaikan kaidah bahasa. Data dan fakta dalam cerita menunjukkan buku itu boleh menjadi karya ilmiah, kendati bukan tingkat tinggi. Ini juga menjadi berguna sebagai sosialisasi bahasa Indonesia kepada pembaca.
Catatan berikutnya barangkali dapat dilihat pada beberapa ilustrasi, terutama ilustrasi pada bagian-bagian awal. Goresannya yang halus membuat gambar bagus. Namun, tulisan yang disajikan sangat kecil, bahkan cenderung kabur dan padat (kelihatan semak), seperti pada halaman 18, 24, 25, 29, 58. Jika gambar dan tulisan itu diperbesar, mungkin akan kelihatan lebih menarik, sebab buku ini bukan komik murni. Gambar-gambar itu sengaja dilampirkan sebagai penarik mata pembaca, terutama anak-anak. Makanya, jika dibuat lebih besar, anak-anak akan lebih suka.
Berikutnya perlu juga mempertimbangkan jenis kertas. Dengan ilustrasi hitam-putih memakai kertas minyak, jika dibaca di bawah lampu akan silau. Sedangkan untuk sampul (kover) sudah bagus. Hanya saja bentuk buku secara keseluruhan mungkin masih dapat dipertimbangkan. Jika kita katakan dongeng anak, tentu hendaknya sedikit diperbesar. Sedangkan jika disebut sebagai buku laporan, bentuknya dipertimbangkan lagi. Wallahualam bisshawab.
*Herman RN, Sarjana Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar