2 September 2008

Melejit lewat “Kuthiding”


Hari itu dia mengenakan baju merah hati dipadu jilbab pink. Dagunya boleh dikatakan bak sangkar burung tempua yang bertengger di pelepah sepohon kelapa. Alis mata tebal yang serupa disisir saban hari itu terpadu indah dengan bulu matanya yang lentik.



Sesaat gadis kelahiran Banda Aceh, 15 November 1986, itu tersenyum. Kala itu pula tersungging sebaris putih dari balik bibir tipisnya yang merah muda. Dia adalah salah satu pemeran utama dalam film dokumenter “Serambi” hasil garapan sutradara Garin Nugroho. Film itu diproduseri oleh Kristina Hakim, dan Liza Aulia, si gadis manis Aceh tulen, itu terpilih sebagai pemeran utama mendampingi Reza Idria.

Liza bukan hanya pemain film dokumenter, dia juga tercatat sebagai pelantun lagu Aceh “Kuthiding”. Melalui lagu etnis Aceh itu pula, karirnya semakin melejit di bidang tarik suara, hingga menggerbak pasar internasional.

Liza mengaku sedang mempersiapkan pelucuran album “Kuthiding” dalam bentuk audio-visual VCD. Direktur Kasga Record, Syeh Ghazali LKB, yang akan mengorbitkan album “Kuthiding” dalam bentuk compact disk, Jumat (29/8) kemarin, menyatakan, insya Allah album “Kutidhing” dalam bentuk CD akan beredar setelah idul fitri tahun ini.

Sebelum menjadi seorang bintang film dan penyanyi, ternyata Liza memang sudah mendalami ‘dunia’ seni. Dia tercatat sebagai salah seorang penari pada sebuah grup sanggar di Aceh. “Mungkin itu sebabnya ketika tampil di depan kamera, dia sudah biasa,” kata Syeh Ghazali.

Liza sendiri mengaku tak menjadi soal besar tampil di depan kamera. Katanya, dalam film “Serambi” itu, dia mendapatkan predikat pemain terbaik. Wanita berkulit putih yang saat ini masih tercatat sebagai mahasiswi di FKIP Usyiah Banda Aceh, berujar, kendati baru dapat mengeluarkan bayak album, baik lagu maupun kaset, tetapi karir dia melalui dua kaset (Serambi dan Kuthiding) it telah menerobos pasar internasional.

Menurut Liza dan Om Syeh—sapaan akrab Syeh Ghazali—lagu Kuthiding berisi syiar syair Aceh di dalamnya. Selain mengandung nuansa Islami, kata Om Syeh, lagu itu juga dipadukan dengan gerak tari yang tidak menghilangkan budaya Aceh. Karena itu pula, Liza mengaku suka lagu tersebut.

“Ketarikan saya mencoba di dunia tarik suara, karena lagu-lagu yang saya nyanyikan semuanya mengunakan musik tarian. Jadi, cocok dengan karakter saya,” ujar mahasiswa Jurusan Kesenian FKIP Unsyiah itu sembari menambahkan, dirinya masuk dapur rekaman tarik suara, setelah mendapat tawaran Om Syeh. Teruslah berdakwah melalui seni, Liza! saleuem.

2 komentar:

deqypoe mengatakan...

Ass...jaroe dua Blah ateuh Jeumala....
Saya seorang Putra Atjeh. dan Saya seorang Prajurit TNI-AD di Yonif 113/JS jl. Takengon...Juli KM 7.. Bireuen... Saya Sangat Senang dengan lagunya Etnis Atjeh...
Pertahankan Liza....kamu memang Pastas Jadi Pujaan Pelantun lagu Etnis...jangan Kayak yang lain Tiruan dari lagu orang dari irama India dan lainnya...saya sangat Jijik kalo orang pake tiruan lagu orang.....
sekarang saya sudah beli album Kuthiding yang VCD...Kamu Best Liza....diantara yang lain...apalagi lagu acoustik yang Putro Bungsu Best banget...maju terus...pantang menyerah....
Teurimong Geunaseh....
salam kenal......Warga TNI-AD Yonif 113/JS yang dari atjeh

fajar mengatakan...

eh kapan keluar nya album ke dua?