Paléh tanoh cöt teungoh kureueng asoe,
Paléh inong jiteumanyong ‘oh jiwoe lakoe,
Paléh agam sipeut kuwah bileung asoe,
Paléh rakyat jimeu-upat rata sagoe,
Paléh raja jideungo haba baranggasoe
Saya sadar, ini bulan puasa. Tak baik membicarakan orang lain, apalagi menyangkut aibnya. Namun, saya kira, selama ruang ini bernama cang panah—dan anggaplah selalu hanya cang panah, serta selama tak punya maksud apa-apa selain berharap dapat menjadi nasihat dan ada hikmah yang dapat dipetik, maka izinkahlah saya sedikit berceloteh tentang “Inong” di Aceh, di kampong kita yang masgul ini.
Dalam sebuah kisah disebutkan bahwa inong Aceh sangat gagah dan penurut kepada suami. Sangking mulianya inong Aceh (perempuan Aceh) tersebut, sebuah hadih maja mengatakan pilihlah perempuan Aceh yang benar-benar Aceh. “Meunyo ie, ie bit. Meunyo bu, bu bit. Meunyo inong, inong Aceh beukeubit-keubit,” kata hadih maja itu.
Tergambar jelas betapa hebatnya inong Aceh dalam banya buku sejarah. Rasanya kita pasti selalu ingat bagaimana inong-inong Aceh dimaksud seperti Cut Nyak Dhien, Keumalahayati, Cut Meutia, Pocut Baren, dan sejumlah nama lainnya yang tak cukup kolom ini jika saya rincikan satu per satu.
Selain itu, penghargaan Aceh terhadap inong tak pula patut diragukan. Jika di seberang sana dan seberang sini sibuk memproklamirkan perempuan harus dibela, derajatnya harus diangkat, Aceh sudah duluan melakukan itu. Bahkan, jika dikatakan perempuan juga bisa memimpin, di Aceh sudah duluan ada kesultanan yang dipimpin oleh seorang perempuan. Sekali lagi, di ruang ini tak perlu kita uraikan satu per satu sultanah tersebut.
Haba ini sekedar mengingatkan betapa Aceh telah menjunjung tinggi inong-inongnya. Bahkan, dalam pergerakan saja ada istilah “Inong Bale”, tidak ada istilah “Agam Balee”. Nah, ketika inong sudah naik ke atas kepala, mestikah ia masih dijunjung?
Maaf, jangan marah dulu, hai aktivis pembela perempuan dan para para perempuan Aceh. Saya tanyakan seperti itu, karena kita di Aceh mulai disiguhkan film “Suami-Suami Takut Istri”. Padahal, kita tahu benar tidak ada film “Istri-Istri Takut Suami”.
Perkara inong-inong seperti ini biasanya ketika dia meminta sesuatu maka mesti didapatkannya sesuatu itu. Saya tahu, tidak semua inong Aceh seperti ini. Tapi, di sebuah kampong, sudah menjadi rahasia umum, seorang suami akhirnya jadi buronan polisi karena mematuhi perintah sang istri (inongnya).
Ceritanya begini, si inong meminta suaminya agar membawa pulang uang banyak. Tanpa ditanya dari mana uang itu berasal, si inong terbuai dengan uang banyak tersebut. Dia membeli sebuah toko, mobil, dan HP.
Kata pepatah, “Sepandai menyimpan bangkai, pasti tercium juga.” Inilah yang menyertai keluarga si inong. Kendati suaminya telah berhasil memalsukan tanda tangan seorang pejabat berwenang di negeri ini hingga mampu mengecoh sebuah bank untuk mencairkan lebih satu miliar rupiah uang, kerja buruknya tercium juga oleh kepolisian. Sayangnya, si inong kena getah. Kemarin, si inong itu disidang dan resmi dijebloskan ke penjara, sedangkan si lakoe, sampai sekarang masih DPO kepolisian.
Artinya, si lakoe dan si inong sama saja. Yang satu barangkali sifeut kuah bileueng asoe, yang satunya suka teumanyoeng ‘oh jiwoe lakoe. Akhirnya, keciprat menetap di rumoh peut sagoe. Untuk itulah, kearifan ureueng Aceh mengatur tatanan hidup manusia agar menyelaraskan segala sesuatu dengan benar. Misalnya, saat bulan puasa seperti ini, suami tidak mesti menuntut istri harus mempersiapkan bekal puasa nikmat-nikmat melulu dengan jumlah banyak. Demikian halnya si istri, tentu tak harus menuntut terlalu bayak dengan kemampuan suami yang alakadarnya mencari rezeki. Sebab, kata indatu, “Paléh tanoh cöt teungoh kureueng asoe, paléh inong jiteumanyong ‘oh jiwoe lakoe, paléh agam sipat kuwah bileung asoe, paléh rakyat jimeu-upat rata sagoe, paléh raja jideungo haba baranggasoe.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar