22 September 2008

GAM CANTOI

Cerpen Herman RN


Sebuah gedung bertingkat warna putih di Gampông Alon sedang dikerumuni orang-orang. Nyaris setiap hari, sejak disebutkan di gedung itu banyak uang, orang-orang berkumpul di sana. Semuanya lelaki. Kurus, gemuk, sedang, botak, berambut keriting, bermata cekung, mata bulat, dan berbagai corak lelaki melimpah di halaman gedung bertingkat dua itu. Di dalam gedung, tepat di ruang tengah, terlihat empat orang sedang sibuk di belakang meja. Keempat orang itu sedang melayani tamu-tamu sekumpulan orang yang memadati gedung itu, yang satu per satu dipersilakan masuk ke dalam gedung. Kertas, pensil, bolpoin, spidol, map warna-warni, dan berbagai alat tulis menulis lainnya tak beraturan di atas meja keempat orang tersbeut. Satu di antaranya bertugas sebagai penanya, satu lainnya menuliskan hasil tanya jawab dengan tamu di kertas yang ada di depannya, lalu memasukkan kertas tersebut ke dalam map. Seorang yang lain menyusun map tersebut berdasarkan warna, ada yang dimasukkan ke dalam map merah, kuning, dan hijau. Setelah selesai seorang, maju yang lain lagi. Itu terus berlangsung kontinyu. Sungguh keempat orang itu sibuk dan berkeringat.



Di luar, matahari sudah tepat di atas kepala, tapi gedung putih berjendela kaca itu masih dikerumuni orang, bahkan semakin ramai. Sekejap kemudian azan berkumandang dari meunasah.

“Keamanan, kemari sebentar,” seru salah seorang dari empat yang duduk di belakang meja. Seorang lelaki berpakaian Satuan Pengaman mendekati meja mereka. “Satpam, tolong bilang sama orang di luar, waktu zuhur sudah tiba, pendaftaran nama-nama anggota GAM ditunda sejenak. Jam dua siang kita lanjutkan lagi,” kata lelaki yang memanggil tadi.

Satpam berlalu ke pintu depan, lelaki yang tadi berkata pada satpam kembali bersuara dengan suara yang lebih keras. “Setelah itu, jangan lupa tutup pintu, nanti ada yang menyusup.”

Satpam yang baru mendapat perintah berdiri di depan pintu gedung sambil memegang pentungan. Dia memandang ke halaman, ke arah kerumunan orang. Dia tersenyum sejenak, senyum yang sinis. Dalam hati dia berkata, benarkah semua lelaki ini pejuang nanggroe? Jangan-jangan... ah!

“Pe-ngu-mu-man…! Pengumuman…! Bapak-bapak, berhubung waktu zuhur sudah tiba, pendaftaran nama-nama mantan pejuang nanggroe ditunda dahulu. Selepas zuhur akan dilanjutkan kembali,” pekik Satpam lantang.

“Jam berapa dibuka lagi?! Kami sudah gerah menunggu!” salah seorang dari kerumunan bersuara, diikuti beberapa suara teriakan yang tak beraturan, mengamini suara pertama.

“Yaa! Ya!! Kapan?! Kapan..!”

“Tenang… tenang, Bapak-bapak diharap tenang. Bapak-bapak bisa kembali jam dua siang nanti. Atau silakan menunggu, tapi gedung ini tetap dibuka jam dua siang. Terima kasih,” kata Satpam sembari menutup pintu gedung dan meniggalkan kerumunan orang. Sebuah papan plang bertuliskan ‘TUTUP’ tidak lupa diletakkannya di depan pintu masuk.
***

Sambil menunggu jarum jam beranjak ke angka dua, Munir dan Samin mendatangi warung kopi yang tak jauh dari gedung itu. Di sana sudah ada beberapa orang duduk sambil menikmati hidangan dari tukang warung. Samin dan Munir mengambil tempat paling pojok. Hanya satu meja itu yang tersisa. Mereka akhirnya duduk di sana.
Belum lama mereka duduk, seorang lelaki lewat. “In! hendak ke mana kau?” kata Munir menyapa lelaki yang baru lewat, setengah berteriak.

Lelaki itu menoleh, “Hei… Munir! Ah, saya cuma beli rokok.”

“Ke mana buru-buru kau? Minum dulu. Setengah jam lagi jam dua.”

“Ya, karena itulah saya mau pulang dulu. Saya belum salat.”

“Apa?! Pulang?! Kau tak ikut mendaftar ke KPA?”

“KPA?!”

“Iya, Di kantor itu semua mantan GAM diharapkan mendaftarkan namanya kembali.”

“O… rumah putih yang di depan itu ya? Saya kan bukan anggota GAM.”

“Duduk dahulu, biar saya jelaskan,” Munir menarik pergelangan tangan Ma’in hingga terduduk di kursi sebelah Munir.

“Dengar ya, Samin ini juga bukan anggota GAM. Tapi, dia saya ajak mendaftar,” ucap Munir lagi seraya memperkenalkan Samin. Ma’in hanya diam sambil melihat ke arah Samin.

“Kau harus tahu, banyak orang yang bukan anggota GAM sekarang mengaku-ngaku jadi GAM,” lanjut Munir.

“Masak sih? Bukankah semua orang takut kalau dirinya dikatakan GAM?”

“Itu dulu!”

“Sekarang?”

“Karena semua mantan Gerakan Aceh Mardeka sekarang dapat gaji, semua orang sekarang ingin jadi GAM.”

“Gaji? Setahuku, tentara GAM berjuang tidak pernah digaji,” sela Ma’in.

“Itu dulu, sewaktu masih di hutan.”

“Sekarang?”

“Sekarang, GAM dapat gaji, dana reintegrasi namanya,” jelas Munir.

“Terus.. apa hubungannya dengan yang bukan GAM. Dana itu khusu untuk GAM kan?” Ma’in mengerutkan keningnya.

“Ya, tapi prosedurnya, hanya masalah pendataan. Siapa yang mendatakan dirinya di kantor Komite Peuralihan Aceh dengan menyebutkan dia GAM, dana itu akan dapat. Mau dibawa kemana uang sebanyak itu. Miliyaran, kawan. Sampai sekarang KPA masih melakukan pendataan siapa-siapa GAM. Jadi, kesempatan bagi orang-orang seperti kita mendapatkan dana itu. Kita kan orang Aceh, berarti kita GAM donk. Kan semua lelaki Aceh, saat konflik dituding sebagai GAM,” papar Munir panjang lebar.

“Itu namanya Gam Cantoi. Bukan GAM negaku GAM. Memangnya bisa gitu?”

“Apa susahnya. Tinggal mendaftar di kantor KPA. Kasih lihat KTP bahwa kita asli keturunan Aceh. Selesai. Ini bukan beasiswa yang harus pakai seleksi segala. Sudah, kau ikut saja jam dua nanti sama kami.”

“Saya takut.”

“Apa yang kau takutkan? Kau lihat Samin ini. Kukatakan sekali lagi ya, Samin ini bukan anggota GAM. Dan aku…? Aku sudah pernah menyerah kemarin kan? Aku sudah keluar dari GAM karena sudah menyerah ketika dicari-cari sama Brimob Jeulikat. Kau tenang saja, masih banyak orang-orang sekarang yang mengaku dirinya GAM, padahal dia bukan GAM, mungkin saudaranya juga tak ada satu pun yang jadi GAM.”

“Tapi saya takut nanti ketahuan menipu. Bisa… bisa…”

“Bisa apa?! Sudah. Kalau kubilang ikut, ikut saja. Kau kira uang yang dibagikan untuk reintegrasi itu uang siapa, ha? Semua itu uang kita. Uang rakyat. Uang nanggroe. Uang itu hak kita. Kita ini kan asoe lhok,” suara Munir sedikit meninggi meyakinkan Ma’in,

“Tapi, Munir…”

“Hei, coba kau lihat orang-orang di kedai kopi ini. Semua mereka ini nanti akan ke gedung KPA untuk mendaftarkan namanya sebagai anggota GAM. Semuanya! Dan masih banyak lagi orang yang akan ke sana nanti. Apa kau kira mereka semua asli Anggota GAM?! Heuh! Paling juga GAM Cantoi!” Munir sinis.

“Munir! Jangan keras keras! Aku takut.”

“Sudah, kau tenang saja! Sebentar lagi kita ke kantor KPA. Kau ada bawa KTP-mu kan?”

“Tapi, Nir…”

“Kau mau uang tidak?”

Ma’in diam. Dipandanginya Munir, lalu Samin, kemudian dia memandang ke seluruh orang yang ada dalam warung kopi. Semua orang di sana tergelak, tersenyum penuh kemenangan.

“Asala kau tahu, Ma’in. di antara mereka ada juga pejabat. Hanya saja mereka sengaja memakai pakaian jelek seperti kita. Semua demi jatah reintegrasi itu,” munir kembali bersuara.

“Bagaimana kalau nanti ketahuan?” tanya Mai’in masih ragu.

“Kalau ketahuan, bukannya kau seorang saja. Jadi tak usah takut. Sudah kukatakan, masih banyak orang di luar sana yang ngaku-ngaku dirinya pejuang.

Ma’in kembali memandangi orang-orang di warung kopi itu. Mereka masih tergelak. Satu sama lain saling bercanda. Mata mereka bersinar. Asap rokok mengepul dari mulut sejumlah orang. Lalu, membumbung dan memecah dihembus angin.

Banda Aceh, awal 2007-2008


Tidak ada komentar: