2 September 2008

Bakar

Haba Herman RN

Mendengar kata “bakar” tentu erat kaitannya dengan api, karena haya apilah yang mampu membakar sehingga jika ada ungkapan, “Wajahnya merah seperti api,” disematkan dengan maksud, “Hatinya sedang terbakar.”



Saya kira tak seorang pun mau kepunyaannya terbakar, apalagi dibakar. Orang akan merasa sedih jika seuatu miliknya terbakar atau dibakar. Jangankan rumah dan harta benda lainnya, setingkat hati saja (yang masih abstrak bagaimana wujudnya saat terbakar), orang tak rela. Bahayanya, jika hati sampai terbakar, baranya bukan lagi berupa arang, melainkan dendam. Itu makanya, orang Melayu punya kepintaran dalam hal ‘bakar-membakar hati’ ini dengan ungkapan “Jangan mengerkah, nanti ditampar pipi. Jangan membakar, nanti dililit puntung.”

Namun demikian, dalam kearifan lain, dikatakan bahwa terkadang kita memang harus membakar sesuatu milik kita. Sesuatu dimaksud adalah ilmu. Kata pepatah, “Kemenyan sebesar lutut, kalau tak dibakar tak mungkin berbau.” Pepatah ini mengandung makna kias yang berarti “Jika memiliki ilmu mesti dimanfaatkan (dibakar), jika tidak sama saja tak ada gunanya.”

Demikian hebatnya Allah swt. mengatur alam. Sesuatu yang mulanya hanya menjadi makna negatif dan tak diinginkan manusia, akhirnya mesti dilakukan juga. Sesuatu perbuatan yang mulanya dilarang dilakukan manusia, yaitu membakar, akhirnya manusia mesti melakukannya.

Ya, kita mesti membakar milik kita itu, yakni ilmu, tentunya ke arah yang positif. Lebih baik membakar ilmu yang dimiliki ke hal-hal positif daripada membakar rumah penduduk, tentunya.

Di bulan ini, ada lagi “bakar” yang disukai umat Muslim sedunia. Dengan sebuah tingkah tanpa menggunakan api, sesuatu itu sudah terbakar. Orang tidak mesti membakarnya, tetapi tetap juga akan dibakar. Mulanya ‘harta’ yang satu ini dikumpulkan oleh manusia, baik sengaja atau pun tidak. Namun, di bulan ini, manusia menginginkan ‘harta’ yang dudah terkumpul tersebut untuk dibakar. Untuk itu, mereka sesuatu pula agar miliknya itu dibakar. Sesuatu yang menjadi ‘harta’ terkumpul sengaja dan tidak itu adalah dosa.

Sebuah keniscayaan setiap manusia di dunia ini memiliki dosa, apalagi manusia-manusia yang hidup di zaman sekarang. Saya, Tuan, dan mereka, sebagai manusia biasa, sudah pasti memiliki dosa. Hal ini selaras dengan hadis Rasulullah saw. “Setiap bani Adam pasti berdosa dan sebaik-baiknya yang pasti berdosa ia bertubat,” (HR. Mutafaqun Alaihi).

Dosa itu milik kita yang tak tampak, tetapi yang satu ini, saya yakin, kita suka jika dibakar oleh Allah swt. Karenanya pula, untuk membakar dosa-dosa itu, umat Mukmin bansigom donya di bulan ini melaksanakan ibadah puasa dan amal-amal saleh lainya, sebab bulan ini memang bulan pembakaran dosa. Semoga saja dosa-dosa kita “terbakar” bersama ibadah yang kita laksanakan. Amin..

Tidak ada komentar: