26 September 2008

Banyak Jalan Menuju Tuhan

oleh Herman RN

Banyak jalan menuju Tuhan! Ya, benar, tapi tidak sama dengan banyak jalan menuju Rhoma atau banyak jalan menuju Banda Aceh, yang boleh ditempuh lewat darat, boleh jalan laut, boleh pula jalur udara. Banyak jalan menuju Tuhan taklah sama dengan banyak cara menuju hutan, yang boleh dilalui pakai kendaraan bermesin, boleh pakai jasa hewan seperti unta dan kuda, boleh pula jalan kaki. “Banyak Jalan Menuju Tuhan” haya sekedar sebuah cerita yang diamprahkan oleh seorang novelis Sumatera Barat yang meninggalkan dunia sastra dalam usia 79 tahun.



Kita tentu masih ingat dengan “Robohnya Surau Kami” karangan almarhum A.A. Navis. Sebuah gebrakan terhadap pemikiran awam masyarakat tentang penilaian Allah swt. sehingga mendapatkan imbalan syurga. Keberanian penulis asal Sumatera Barat itu mendapat sambutan besar di dunia sastra. Melalui sebuah cerita fiksi, lelaki bernama lengkap Ali Akbar Navis itu mampu membuka cakrawala pikiran manusia tentang menggapai cinta Tuhan yang kita sebut imbalannya syurga.

Sedikit merefleksi interpretasi teks Navis, bahwa beramal kepada sang khaliq tidak semata-semata harus dilakukan dengan salat, puasa, zakat, sadaqah, dan naik haji. Namun, beramal juga dapat dilakukan dengan berbuat sosial dalam kehidupan masyarakat. Kata Nabi saw., memberikan senyum saja kepada orang lain sudah beramal.
Melalui karya yang sempat heboh di tahun 1955 itu, Navis, lelaki kelahiran Padang Panjang 17 November 1924, telah menunjukkan bahwa Tuhan sangat jauh berbeda dari manusia, dalam artian Tuhan bukan gila disembah, gila dipuji, gila disanjung, kendati kalimah sahadat memiliki makna segala puji hanya bagi Allah. Namun, yang diinginkan-Nya adalah sang hamba bertaqwa kepada Dia. Hanya itu, kata A.A. Navis lewat novelnya.

Taqwa tentu saja dapat dilakukan dengan beramal saleh. Beramal saleh banyak cara dan jalannya, salah satunya adalah tidak membiarkan orang lain menderita. Konteks ini, saya ambil berdasarkan teks sastra Navis.

"....kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua? Sedang harta bendamu kau biarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang Aku menyuruh engkau semuanya beramal walau engkau miskin. Engkau kira Aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu tidak lainhanya memuji-muji dan menyembah-Ku saja? Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. Hai malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!"

Demikian secuplik cerita dalam “Robohnya Surau Kami”. Gambaran fiksionis Navis dalam dialog seorang hamba dengan Tuhan itu sangat jelas hendak memperlihatkan sekaligus menegaskan bahwa kita hidup dalam dunia tidak sendirian. Membutuhkan pertolongan orang lain adalah keniscayaan dalam hidup. Menolong orang lain merupakan salah satu jalan “menuju Tuhan” di samping beribu jalan lain yang kita sebut dengan ibadah. Lalu, yang beribadah semalam suntuk di meunasah-meunasah, surau, atau mesjid, apakah salah? Tidak, tak ada yang salah dengan ibadah, tetapi Allah menginginkan kita agar tidak melupakan yang kecil, yang kita anggap sederhana dalam hidup ini sebagai bukti bahwa Dia mencintai semua yang ada di muka bumi ini.

Hal yang sangat menarik jika kita angkat dalam konteks Aceh sekarang ini adalah kalimat “…kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua? Sedang harta bendamu kau biarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras.”

Saya kira kalimat itu sangat cocok dengan kondisi Aceh saat ini. Sejumlah perusahaan besar di Aceh dipimpin oleh orang luar. “Buya krueng tahé teudong-dong, buya tamoeng meuraseuki,” kata hadih maja Aceh. beberapa hasil bumi Aceh, hanya secuil dapat dirasakan orang Aceh, itu pun tidak merata. Yang duduk di kursi goyang, duduklah terus, yang makan daging rendang, makanlah terus, yang tinggal di gedung bertingkat dan memiliki mobil mewah mengkilat, puaslah terus. Di sisi lain, yang bertengkar karena hanya sebilik barak, bertengkarlah terus. Yang berebut selembar ribuan dari pintu ke pintu, berebutlah terus. Sungguh realisme ureueng Aceh dalam novel yang dikarang oleh suami Aksari Yasin itu.

Melihat kenyataan tersebut, apa yang dimaksudkan oleh Navis dalam “Robohnya Surau Kami” dapat diselaraskan dengan sebuah puisi Tengsoe Djahjono yang berjudul “Hompimpa”. Apabila Navis menggambarkan secara perspektif dalam “Robohnya Surau Kami” lalu mampu mebuka kesempitan pemikiran kepada sejumlah orang tentang cara beribadah. Artinya, yang dimaksudkan Navis dengan ungkapan beribadat saja belum tentu masuk surga, maka Djahjono secara tegas mengatakan tidak semua yang berpakaian sufi itu menggambarkan kekuatan peribadatan seseorang. yang berjanggut belum tentu ayam, karena musang pun sudah pintar memakai janggut di zaman sekarang. Hal ini sesuai bunyi sajak “Hom Pim Pa” //apa katamu bila hidup ini hompimpa/ siang orang sufi malam berkostum pencuri/ topeng-topeng tergantung pada setiap biliknya/ maka berubahlah setiap saat/ biar perut terganjal, panjang usia dipersempit limitnya//.

Lantas, apa yang merekka lakukan dengan embel-embel “Atas nama rakyat” sehingga dapat rumah bertingkat itu dapat dikatakan jalan menuju Tuhan? Apakah yang berpakaian sufi siang malam dapat dikatakan akan bertemu Tuhan? Masih banyak jalan menuju Tuhan dan di sini masih banyak fakir, miskin, janda, dan yatim, yang masih mencari di mana kasih sayang Tuhan yang dititipkan kepada yang lebih mampu. Wallahu’alam.

Read More...

25 September 2008

Meusyén

oleh Herman RN

Kemarin, kita baru saja dikejutkan dengan kepulangan Gubernur Aceh secara tiba-tiba dari persinggahan perawatannya di Singapura. Yang lebih mengagetkan, kehadirannya hanya sekali putaran rotasi bumi pada porosnya. Ya, hanya sehari, lalu dia kembali meninggalkan Aceh dan rakyatnya. Padahal, Hari Kemengan Fitri sudah di depan hidung.
Alasannya sederhana, dokter yang menangani kesehatan gubernur mengatakan bahwa pemimpin Aceh itu masih butuh perawatan di Singapura. Namun, ada pesan yang dititipkan gubenur kepada bangsa Aceh. “Meskipun saya berhari raya di Singapura, jangan terkejut kalau suatu waktu sudah berada di dataran tinggi Gayo atau pedalaman Sabang,” katanya seperti dilansir beberapa media lokal Aceh.



Ada yang membuat kepulangan gubernur terjadi mendadak, yakni meusyèn. Jika kepulangannya ke Aceh beberapa hari lalu adalah meusyèn kepada rakyat Aceh, terutama kepada para yatim sehingga dia menyempatkan diri dari jauh pulang ke Aceh, tak mustahil pula seperti yang dia, jika meusyèn berikutnya tiba, dia akan tiba di salah satu pedalaman Aceh.

Ternyata penyakit meusyèn juga sedang melanda Hasan Tiro. Lelaki 83 tahun yang kerap disapa Wali Nanggroe itu agaknya sedang meusyèn kepada Aceh. Meusyèn Wali telah membuahkan rencana akan saweue gampông. Jika tak ada aral melintang, 11 Oktober mendatang Wali sudah di Aceh. Demikian kata kabar. Sayangnya, meusyèn Wali kepada gampôngnya mengalami sedikit ‘kekeruhan’. Kendati dia berniat saweue gampông sendiri, dia diharuskan menyiapkan segala bekal surat-surat bahwa dirinya adalah seorang pendatang.

Dari kalangan pasukan pengaman negara pun mulai mengambil sigap. Lihat saja penegasan Kepala Pusat Penerangan TNI, Marsekal Muda Sagom Tamboen. Sangat tegas dia mengatakan akan “Mengawasi” Hasan Tiro, bukan “Mengawal”. Dua kata yang mirip, tetapi memiliki makna berlawanan. Kata “Mengawasi” menunjukkan tidak percaya. Inilah yang ditunjukkan negara republik Indonesia melalui tentaranya. Ada rasa ketidakpercayaan Indonesia kepada Aceh bahwa Serambi Makkah ini sudah damai sehingga mesti mengawasi Wali Nanggroe Aceh yang pulang ke Aceh.

Miris memang, ketika pulang ke tanah tumpah darah sendiri mesti dicurigai. Namun, apa boleh buat, negara ini memang sudah terbiasa dengan curiga mencurigai. Namun demikian, kita percaya Wali masih memiliki darah Aceh sehingga jika meusyèn sudah di dada, jangankah suara senjata, suara geulanteue pun takkan jadi penghadang. Apalagi, sekedar suara manusia biasa. Sama mungkin seperti meusyènnya gubernur beberapa hari lalu yang menyempatkan diri pulang ke Aceh, meskipun (katanya) dalam keadaan sakit, demi meusyèn dia kepada yatim piatu Aceh.

Akan tetapi, karena negara ini sudah mengajarkan kita perihal “curiga”, mungkin tak salah jika ada anak Aceh yang menanamkan sebuah kecurigaan pula bahwa kepulangan Wali ke Aceh hanya sekedar isu untuk mengalihkan gebyar Pemilu di Bumi Iskandar Muda ini. Pasalnya, bukankah kabar Wali akan pulang ke Aceh sudah pernah ada sebelumnya? Namun, kenyataannya sampai sekarang kabar kepulangan Wali itu tak lebih dari cara menarik isu alias ada propaganda di balik semua kabar-kabari tersebut.
Sungguh, saya tidak tahu propaganda siapa saat itu dan saya kira memang tak perlu lagi memikirkan perihal propaganda tersebut. Yang ada dalam harapan saat ini hanyalah 11 Oktober 2008 akan menjadi sejarah di mata dunia bahwa Hasan Tiro masih meusyèn kepada Aceh, meski dia sudah menjadi penduduk negara asing. Saya yakin, jika memang Wali saat ini benar-benar meusyèn kepada Aceh, meskipun diawasi dengan berjuta pasukan dan bertriliun bedil serta bermiliar ucapan sumbang, tetap dia akan sampai ke Aceh, bertatap muka dengan masyarakat Aceh. Sebab, ureueng Aceh punya kearifan yang sangat kuat jika sudah dilanda penyakit meusyèn. Hal ini tertanam dalam hadih maja, “Meunyo ka meusyén keu rakan sahbat, reudôk keu tungkat, kilat keu sua.” Hemat saya, Wali paham benar naritmaja itu sehingga kendati dia sudah hidup bagai kijang di rantai emas, saat dilepas tahu larinya ke hutan juga. Wallahu’alam.

Read More...

23 September 2008

Biarlah…

oleh Herman RN
Hari Raya Fitri tinggal bilangan sebelah jari. Perkara Tunjangan Hari Raya (THR) dan gaji mulai jadi cerita menyambut pagi. Belum lagi masalah pengungsi korban tsunami. Mereka juga punya punya cerita sendiri. Misalkan saja, pejabat BRR yang punya besar gaji menggelar buka puasa akbar di Jakarta, para korban tsunami tetap masih di barak, entah pun sempat menggigit jari. Jangan-jangan karena sudah sering menggigit jari, mereka tak lagi punya jari (mungkin).



Pembaca yang budiman (berbudi dan beriman), masalah sedih dan BRR bukanlah cerita baru di gampông kita. Mungkin tak ada lagi gunanya saya bercerita tentang BRR bersama pasukan “aib”-nya itu. Mereka sudah kebal dengan berbagai kritikan dan masukan. Jangankan sekedar dihujat lewat tulisan, didatangi ke rumah aibnya itu pun sudah sering dilakukan orang, baik oleh para korban maupun aktivis kemanusiaan. Namun, yang namanya seminar mencari sisa lebih dari pagelaran masih tetap dilakukan. Demikan halnya dengan buka puasa bersama dengan alasan mempererat tali silaturrahmi. Alih-alih buka puasa bersama dengan hanya Rp150 ribu per orang, tetapi dana lebih dari yang dianggarkan masih bisa masuk—kalau bukan kantong belakang, ke kantong depan.

Alasannya memang sederhana. Mereka buka puasa bersama di pusat sana sebagai pelepas penat dan mengikat tali silaturrahmi. Itu makanya pembesarpembesar rumah aib itu bertandang ke pusat. Melepas penat? Mereka berpikir perlu melepas penat karena telah banyak urusan kemanusiaan diurusnya di gampông kita. Tapi, masyarakat korban tak perlu melepas penat, meskipun kadang penat masyarakat lebih berat dari penan mereka.

Bagaimana tidak. Masyarakat berpikir bagaimana mencari pagi untuk makan siang, mencari siang untuk makan malam. Sedangkan pejabat-pejabat di rumah aib itu, cukup sekedar berpikir, masalah makan, sudah berlebih-lebihan. Makanya, saya tak hendak lagi berkisah bagi masukan untuk ‘rumah aib’ itu, meskipun para ‘pejabat aib’ pernah mengatakan BRR adalah milik kita, rakyat Aceh.

Wahai para pengungsi yang kalian tak lagi dianggap sebagai korban bencana tsunami karena telah lama kisah itu pergi, lupakan saja rumah aib berwarna putih itu. Sudah saatnya membiarkan para pejabat di sana tenang bersama aib tsunami ini. Mereka—para pejabat aib itu—terlalu kebal untuk didemo, terlalu bako untuk dihujat, terlalu ceubeueh untuk diberi masukan. Jadi, usah lagi mengulurkan tangan kepada mereka. Mungkin mereka akan sangat terhormat jika kita diamkan saja. Maka itu, mari mencoba untuk tidak mengadu kepada orang-orang di ‘rumah aib’ itu. Masih banyak lat batat kayèe batèe di dunia ini yang dapat diolah. Sedangkan sumbangan dunia untuk janda dan yatim tsunami, biarkah ditelan di rumah aib itu. Bukankah mereka punya alasan tersendiri melakukannya, yakni bahwa mereka juga korban tsunami.

Karena itu, biarlah mereka yang menikmati sedekah untuk korban tsunami itu. Percuma saja diminta, direngek, yang ada hanya mebuahkan luka bertambah. Biarlah mereka berbuka puasa di gedung bertingkat serta memeperoleh tiket pesawat, cukupkanlah diri kita berbuka dalam gelap pengab seadanya saja. Biarlah mereka menggelar kembali seminar-seminar ala internaional untuk menghabiskan uang rakyat, karena sudah menjadi tradisi daerah kita lebih suka adu cakap daripada berbuat nyata untuk rakyat. Dan kita, cukup sekedar mengingat bahwa “Bala tasaba, nekmat tasyukô, sinan nyang le ureueng bahgia.”

Wahai para korban tsunami, usah tangisi lagi nasib hari ini. Mari kita senyumi para pejabat di rumah aib itu yang sedang tertawa. Berikan mereka senyum. Jangan berikan mereka karton bertuliskan hujatan, tapi saatnya kita kirimkan kalungan bunga ucapan selamatan. Bukankah sudah sangat lama mereka ingin diucapkan selamat?

Ya, ucapan selamat. Kalau dari luar, ‘rumah aib’ itu tak pernah terlihat ada cela sehingga banyak bangsa luar yang bersedekah untuk negeri ini mengucapkan selamat kepada mereka—penghuni rumah aib tersebut. Hemat saya, mereka belum pernah mendapatkan ucapan selamat dari korban stunami yang tinggal di barak atau tenda-tenda. Maka, mari kirimkan kalung bunga untuk mereka. Ucapkan sebaris kalimat merdu yang menjadi mimpi mereka. Mari ucapkan selamat kepada mereka. Biarlah… biarlah mereka bangga dan bertepuk dada dengan ucapan selamat dari korban tsunami. Pasti, media seluruh dunia akan mengabarkan bahwa ‘rumah aib’ itu sudah berhasil karena sudah dapat ucapan selamat dari korban tsunami. Mungkin ini jalan untuk mengakhiri cepat masa kerja pejabat aib itu, sebab kalau mereka dianggap dunia sudah berhasil, rumah aib itu pun akan ditutup (mungkin). Mari ucapkan selamat kepada mereka. Karena mereka sudah terlalu kebal dengan ucapan meminta dari kita.


Read More...

22 September 2008

GAM CANTOI

Cerpen Herman RN


Sebuah gedung bertingkat warna putih di Gampông Alon sedang dikerumuni orang-orang. Nyaris setiap hari, sejak disebutkan di gedung itu banyak uang, orang-orang berkumpul di sana. Semuanya lelaki. Kurus, gemuk, sedang, botak, berambut keriting, bermata cekung, mata bulat, dan berbagai corak lelaki melimpah di halaman gedung bertingkat dua itu. Di dalam gedung, tepat di ruang tengah, terlihat empat orang sedang sibuk di belakang meja. Keempat orang itu sedang melayani tamu-tamu sekumpulan orang yang memadati gedung itu, yang satu per satu dipersilakan masuk ke dalam gedung. Kertas, pensil, bolpoin, spidol, map warna-warni, dan berbagai alat tulis menulis lainnya tak beraturan di atas meja keempat orang tersbeut. Satu di antaranya bertugas sebagai penanya, satu lainnya menuliskan hasil tanya jawab dengan tamu di kertas yang ada di depannya, lalu memasukkan kertas tersebut ke dalam map. Seorang yang lain menyusun map tersebut berdasarkan warna, ada yang dimasukkan ke dalam map merah, kuning, dan hijau. Setelah selesai seorang, maju yang lain lagi. Itu terus berlangsung kontinyu. Sungguh keempat orang itu sibuk dan berkeringat.



Di luar, matahari sudah tepat di atas kepala, tapi gedung putih berjendela kaca itu masih dikerumuni orang, bahkan semakin ramai. Sekejap kemudian azan berkumandang dari meunasah.

“Keamanan, kemari sebentar,” seru salah seorang dari empat yang duduk di belakang meja. Seorang lelaki berpakaian Satuan Pengaman mendekati meja mereka. “Satpam, tolong bilang sama orang di luar, waktu zuhur sudah tiba, pendaftaran nama-nama anggota GAM ditunda sejenak. Jam dua siang kita lanjutkan lagi,” kata lelaki yang memanggil tadi.

Satpam berlalu ke pintu depan, lelaki yang tadi berkata pada satpam kembali bersuara dengan suara yang lebih keras. “Setelah itu, jangan lupa tutup pintu, nanti ada yang menyusup.”

Satpam yang baru mendapat perintah berdiri di depan pintu gedung sambil memegang pentungan. Dia memandang ke halaman, ke arah kerumunan orang. Dia tersenyum sejenak, senyum yang sinis. Dalam hati dia berkata, benarkah semua lelaki ini pejuang nanggroe? Jangan-jangan... ah!

“Pe-ngu-mu-man…! Pengumuman…! Bapak-bapak, berhubung waktu zuhur sudah tiba, pendaftaran nama-nama mantan pejuang nanggroe ditunda dahulu. Selepas zuhur akan dilanjutkan kembali,” pekik Satpam lantang.

“Jam berapa dibuka lagi?! Kami sudah gerah menunggu!” salah seorang dari kerumunan bersuara, diikuti beberapa suara teriakan yang tak beraturan, mengamini suara pertama.

“Yaa! Ya!! Kapan?! Kapan..!”

“Tenang… tenang, Bapak-bapak diharap tenang. Bapak-bapak bisa kembali jam dua siang nanti. Atau silakan menunggu, tapi gedung ini tetap dibuka jam dua siang. Terima kasih,” kata Satpam sembari menutup pintu gedung dan meniggalkan kerumunan orang. Sebuah papan plang bertuliskan ‘TUTUP’ tidak lupa diletakkannya di depan pintu masuk.
***

Sambil menunggu jarum jam beranjak ke angka dua, Munir dan Samin mendatangi warung kopi yang tak jauh dari gedung itu. Di sana sudah ada beberapa orang duduk sambil menikmati hidangan dari tukang warung. Samin dan Munir mengambil tempat paling pojok. Hanya satu meja itu yang tersisa. Mereka akhirnya duduk di sana.
Belum lama mereka duduk, seorang lelaki lewat. “In! hendak ke mana kau?” kata Munir menyapa lelaki yang baru lewat, setengah berteriak.

Lelaki itu menoleh, “Hei… Munir! Ah, saya cuma beli rokok.”

“Ke mana buru-buru kau? Minum dulu. Setengah jam lagi jam dua.”

“Ya, karena itulah saya mau pulang dulu. Saya belum salat.”

“Apa?! Pulang?! Kau tak ikut mendaftar ke KPA?”

“KPA?!”

“Iya, Di kantor itu semua mantan GAM diharapkan mendaftarkan namanya kembali.”

“O… rumah putih yang di depan itu ya? Saya kan bukan anggota GAM.”

“Duduk dahulu, biar saya jelaskan,” Munir menarik pergelangan tangan Ma’in hingga terduduk di kursi sebelah Munir.

“Dengar ya, Samin ini juga bukan anggota GAM. Tapi, dia saya ajak mendaftar,” ucap Munir lagi seraya memperkenalkan Samin. Ma’in hanya diam sambil melihat ke arah Samin.

“Kau harus tahu, banyak orang yang bukan anggota GAM sekarang mengaku-ngaku jadi GAM,” lanjut Munir.

“Masak sih? Bukankah semua orang takut kalau dirinya dikatakan GAM?”

“Itu dulu!”

“Sekarang?”

“Karena semua mantan Gerakan Aceh Mardeka sekarang dapat gaji, semua orang sekarang ingin jadi GAM.”

“Gaji? Setahuku, tentara GAM berjuang tidak pernah digaji,” sela Ma’in.

“Itu dulu, sewaktu masih di hutan.”

“Sekarang?”

“Sekarang, GAM dapat gaji, dana reintegrasi namanya,” jelas Munir.

“Terus.. apa hubungannya dengan yang bukan GAM. Dana itu khusu untuk GAM kan?” Ma’in mengerutkan keningnya.

“Ya, tapi prosedurnya, hanya masalah pendataan. Siapa yang mendatakan dirinya di kantor Komite Peuralihan Aceh dengan menyebutkan dia GAM, dana itu akan dapat. Mau dibawa kemana uang sebanyak itu. Miliyaran, kawan. Sampai sekarang KPA masih melakukan pendataan siapa-siapa GAM. Jadi, kesempatan bagi orang-orang seperti kita mendapatkan dana itu. Kita kan orang Aceh, berarti kita GAM donk. Kan semua lelaki Aceh, saat konflik dituding sebagai GAM,” papar Munir panjang lebar.

“Itu namanya Gam Cantoi. Bukan GAM negaku GAM. Memangnya bisa gitu?”

“Apa susahnya. Tinggal mendaftar di kantor KPA. Kasih lihat KTP bahwa kita asli keturunan Aceh. Selesai. Ini bukan beasiswa yang harus pakai seleksi segala. Sudah, kau ikut saja jam dua nanti sama kami.”

“Saya takut.”

“Apa yang kau takutkan? Kau lihat Samin ini. Kukatakan sekali lagi ya, Samin ini bukan anggota GAM. Dan aku…? Aku sudah pernah menyerah kemarin kan? Aku sudah keluar dari GAM karena sudah menyerah ketika dicari-cari sama Brimob Jeulikat. Kau tenang saja, masih banyak orang-orang sekarang yang mengaku dirinya GAM, padahal dia bukan GAM, mungkin saudaranya juga tak ada satu pun yang jadi GAM.”

“Tapi saya takut nanti ketahuan menipu. Bisa… bisa…”

“Bisa apa?! Sudah. Kalau kubilang ikut, ikut saja. Kau kira uang yang dibagikan untuk reintegrasi itu uang siapa, ha? Semua itu uang kita. Uang rakyat. Uang nanggroe. Uang itu hak kita. Kita ini kan asoe lhok,” suara Munir sedikit meninggi meyakinkan Ma’in,

“Tapi, Munir…”

“Hei, coba kau lihat orang-orang di kedai kopi ini. Semua mereka ini nanti akan ke gedung KPA untuk mendaftarkan namanya sebagai anggota GAM. Semuanya! Dan masih banyak lagi orang yang akan ke sana nanti. Apa kau kira mereka semua asli Anggota GAM?! Heuh! Paling juga GAM Cantoi!” Munir sinis.

“Munir! Jangan keras keras! Aku takut.”

“Sudah, kau tenang saja! Sebentar lagi kita ke kantor KPA. Kau ada bawa KTP-mu kan?”

“Tapi, Nir…”

“Kau mau uang tidak?”

Ma’in diam. Dipandanginya Munir, lalu Samin, kemudian dia memandang ke seluruh orang yang ada dalam warung kopi. Semua orang di sana tergelak, tersenyum penuh kemenangan.

“Asala kau tahu, Ma’in. di antara mereka ada juga pejabat. Hanya saja mereka sengaja memakai pakaian jelek seperti kita. Semua demi jatah reintegrasi itu,” munir kembali bersuara.

“Bagaimana kalau nanti ketahuan?” tanya Mai’in masih ragu.

“Kalau ketahuan, bukannya kau seorang saja. Jadi tak usah takut. Sudah kukatakan, masih banyak orang di luar sana yang ngaku-ngaku dirinya pejuang.

Ma’in kembali memandangi orang-orang di warung kopi itu. Mereka masih tergelak. Satu sama lain saling bercanda. Mata mereka bersinar. Asap rokok mengepul dari mulut sejumlah orang. Lalu, membumbung dan memecah dihembus angin.

Banda Aceh, awal 2007-2008


Read More...

Ingat!!!

oleh Herman RN

Alkisah itu terjadi juga. Mulanya dicurigai karena penghuni hutan membawanya ke sebuah tempat. Masyarakat bilang, ke tempat semayam penghuni rimba tersebut. Namun, kejadian itu terkuak juga, bahwa si dara lima belas tahun itu bukan diambil penghuni rimba yang ditamsilkan seperti hantu atau genderuwo, melainkan diciduk sesama manusia, dinikmati tubuhnya, lalu dibunuh.



Beraneka ungkapan makian melesat dari banyak mulut saat melihat kondisi si dara yang ditemukan tak lagi bernyawa terjepit di akar sebatang kayu. Sadis memang, di bulan suci penuh rahmat, berkah, dan ampunan ini, malah orang mencari dosa dan murka. Namun, itulah fenomenanya.

Ini bukan sekedar kisah, tapi sungguhan terjadi di belahan utara negeri kita. Awalnya karena uang, namun berujung nyawa melayang. Bukan karena perampokan, tapi lebih kepada “tak boleh melihat uram pha”. Karena itu, sudah menjadi kesejatian jika nasihat orang tua mesti tak cukup sekedar di dengar, tapi juga dijalankan.

Lihat saja, si dara malang di Pirak Timu itu. Niat semula mencari biji sawit untuk memperoleh sedikit jajan di Hari Raya yang hanya tinggal bilangan jari. Namun, entah si bejat dari mana, akhirnya si dara dibunuh, setelah terlebih dahulu diperkosa. Ya, kembali lagi kepada kata semula, gara-gara (maaf) uram pha.

Kasus seperti ini biasa hanya kita dapati pada koran yang datang dari negeri jauh di seberang. Namun, belakangan, perkara uram pha di negeri kita semakin menyalak. Bahkan, kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual sudah ikut mewarnai media lokal kampung kita yang isinya juga orang-orang negeri kita. Ah, ini bulan puasa, tapi berita tentang itu harus menjadi santapan sahur dan berbuka kita yang disiarkan banyak media?

Mungkin tak salah jika cang panah ini mencoba mengingatkan kembali kita pada sebuah kata bijak indatu kita. “Jeut-jeut na uteuen pasti na rimueng; jeut-jeut na krueng pasti na buya.” Teuma pat jiduek rimueng ngon buya nyan, ini yang menjadi nasihat pada kita, orang tua dan para dara. Bèk gara-gara bubông sèng tuwoe keu bubông ôn meuria; bèk nafsu keu pèng, tuwoe keu bahya.

Ingat dan awas selalu pesan Bang Napi, “Kejahatan terjadi bukan karena niat pelakunya, tapi juga karena ada setiap kesempatan.” Kadang di jalan, kadang di sekolah, kadang di taman, kadang di meunasah, kadang di jembatan, kadang pula di sawah. Maka, masihkah memberi kesempatan pada mata-mata jalang dengan memperlihatkan uram pha?

Padum keuh mangat geuleupak gop tob; Nyang leubeh mangat that ie reu-ôh droe. Padum keuh ék gop peuingat; Nyang leubeh göt that taingat keudroe!


Read More...

19 September 2008

Gampông

oleh Herman RN

Orang bijak berkata “Apalah arti sebuah nama”. Kenyataannya, tanpa ada nama, orang sulit menyapa dan menyebut sesuatu itu dengan apa. Perkara seperti ini bukan hanya menyangkut soal gelar pada manusia, tetapi juga masalah tempat (daerah) sehingga perlu diberikan nama pada sesuatu yang ingin disebutkan itu.



Katakan saja nama sistem pemerintahan paling bawah, yakni gampông. Kendati masa pemerintahan Soeharto dengan undang-undang nomor 5 tahun 1979 pernah berupaya menghilangkan nama gampông dengan menyetarakan semuanya dengan penyebutan desa, kata “gampông” bagi ureueng Aceh tetap hidup dan tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.

Sudahlah tentang defenisi gampông dan luka masa orde baru itu, kelakar hari ini sekedar menyimak kembali nama-nama gampông di Aceh. Agar tak melebar cakap, kita batasi saja tentang nama-nama gampông di Banda Aceh dan Aceh Besar dulu.

Menurut hemat saya, banyak gampông di Aceh menggunakan kata “Lam” di depannya. Agar tak terlalu luas, kita lihat saja pada nama-nama gampông di Banda Aceh dan Aceh Besar. Ada Lamgugop, Lamglumpang, Lambhuk, Lampriet, Lamtemen, Lampaseh, Lamlagang, Lambaro, Lambarih, Lampu’uk, Lamtuba, Lamseupeung, Lamtamot, Lampakuk, Lambitra, Lamjabat, Lamdingin, Lamnga, Lampisang, Lampeuneurut, Lamkunyet, Lamteh, dan tentunya masih banyak lagi, yang tak mungkin bisa saya ingat dalam waktu sesingkat ini. Jadi, kalau ada yang nama gampông yang tertinggal, silakan ditambah sendiri.

Sampai saat ini, masih ada yang bertanya mengapa nama-nama gampông di Aceh terlalu suka menggunakan kata “Lam”. Saya sendiri kurang tahu. Namun, seorang teman dalam ceritanya pernah membubuhkan nama sebuah gampông di Aceh dengan sebutan—maaf—Lamkrèh. Betapa kata “Lam” di sana dimaknai dengan “dalam” sehingga gampông Lamkrèh adalah sebuah perwujudan daerah yang masyarakatnya mengamalami sakit mendalam karena tingkah zaman buruk oleh polah pemimpinnya. Maka, kesakitan itu digambarkan teman saya dalam bentuk nama gampông “Lamkrèh”. Jika perih yang dirasakan sudah sampai ke dalam (maaf sekali lagi) “krèh”, saya tidak tahu bagaimana menggambarkan kesakitan tersebut.

Demikian perihnya kehidupan masyarakat di gampông itu sehingga gampôngnya pun bernama demikian. Lantas, dengan gampông Lam yang lain, ternyata masih ada juga yang suka melempar jarum dalam jerami. Berlagak “Akulah yang udangnya” masih ada sampai sekarang. Berpura menyelamatkan padi warga dari amuk api menjadi kebiasaan yang diwariskan turun temurun. Kalau perlu, bakar rumah sendiri demi mencari kata simpati. “Ureueng malém peudeuh peungeuh, ureueng ceubeueh peudeuh nyang tueng bila,” kata hadih maja.

Dalam bentuk lain, Tengsoe Jahjono berpendapat, “Siang berpakaian sufi, malam berkostum pencuri. Topeng-topeng tergantung pada setiap biliknya, maka berubahlah ia setiap saat. Walau perut terganjal, panjang usia dipersempit limitnya.” Sungguh dari semua itu, rakyat sedang diajarkan berbohong. Maka, di negeri dongeng yang lain, timbul sebuah nama gampông lagi, yakni Lamsulét. Entah sampai kapan rakyat mendapatkan nama gampông Lambeutoi??? Wallahu’alam. Yang jelas, berjanji dan bersumpah sudah menjadi makanan sehari-hari sembari menjual kata “insya Allah”.

Read More...

Tentang Kecurigaan Plagiat

oleh Herman RN

maaf puasa telah pun dilisan
maaf lebaran segera tiba
sungguh bijak sebuah pembelaan
terlampau tafsiran bersuka kata

Agaknya tulisan saya yang berkelakar tentang cinta di bulan damai, yang saya sarikan dari amatan terhadap Soneta Soneta Neruda di Serambi Indonesia telah membuka gelisah segenap pembaca sastra. Akibatnya, penikmat dan pemikir sastra saling curiga bahwa “Ada apa antara saya dan Fozan Santa”. Tuding menuding hingga usaha pembelaan pun berseliweran, dari meja warung kopi hingga laman Serambi Indonesia (SI) dan Aceh Institute (AI).




Tak ada yang salah dari sebuah diskusi, baik yang berpihak maupun tidak. Namun, kecurigaan banyak penafsir menggelitik saya harus menuliskan kembali cerita tentang kata “plagiat dan penerjemahan” terhadap sebuah karya sastra di ruang ini. Apalagi, tatkala saya dituduh sangat sinis, mengepul api, dengan menuduh Fozan sebagai plagiat atas sajak-sajak Neruda. Maka, izinkah saya meluruskan resah gelisah itu sehingga rindu-dendam saling hantam dapat dinetralisir, dengan tanpa menafikan bahwa kita sedang berdiskusi, memberi ruang pada ingatan yang menjadikannya barisan kata penuh makna. Sungguh beruntung kita, ternyata dunia sastra belum mati di gampông ini.

Sebelum bertutur panjang, mari kita membetulkan dahulu penulisan nama “bintang” yang jadi pembicaraan. Nama aslinya Ahmad Fauzan, namun ia lebih suka menggunakan gelar pena Fozan Santa. Ingat, Fozan, bukan Fauzan, kecuali memakai nama sebenarnya, baru ditulis Fauzan (Ahmad Fauzan). Terhadap penyebutan ini, Fozan sendiri yang mengatakan pada saya bahwa dia lebih senang disebut Fozan Santa daripada Fauzan Santa. Adapun tentang siapa dia selengkapnya, saya kira ruang ini bukan tempatnya kita bergunjing lepas, kendati ada penikmat sastra yang telah membongkar “aib” Fozan saat mencoba menghujat tulisan saya. Itu akibat pembelaan penuh emosi.

Sebagai sebuah karya sastra, melakukan interpretasi terhadapnya sangat dibutuhkan kontemplasi dengan meninggalkan segenap emosi dari dalam diri. Nah, ini yang menurut saya masih rabun tangkap oleh sejumlah pembaca terhadap “Epigram untuk Fozan Santa”, termasuk penikmat yang mencoba menanggapi Epigram tersebut di SI dan penikmat yang berujar di AI.

Sudahlah dengan penikmat di SI itu, yang manakala ditelisip dengan seksama, tulisan dia memang penuh sangat emosi dan caplok sana-caplok sini. Namun, bagaimana dengan penikmat di AI? Saya tidak mengatakan pembelaan seorang antropolog terhadap Fozan juga berlapis emosi, tapi pengantar tulisan dia dalam “Soal Plagiat dan Karya Sastra”, hemat saya masih perlu diluruskan. Betapa dia mengklem isu plagiat dalam sastra Aceh baru menyeruak di daerah ini dipicu dengan terbitnya dua sajak Neruda yang diterjemahkan oleh Fozan. Padahal, perkara ini sudah lama ada, sejak seniman musik (lagu) Aceh kehilangan estetika kreativitas orisinilnya, dengan menerjemahkan lagu dari luar bahasa Aceh—misal bahasa Indonesia dan India. Penyaduran tersebut bukan haya pada kata dan bahasa, juga berlaku pada irama dan pukulan genderangnya (baca: musik).

Hal ini sejatinya bukanlah kreativitas, melainkan kebutan ide, gagasan, dan proses kreatif sehingga hanya mampu melakukan penggiringan bahasa (juga irama) dari lokal pertama ke bentuk lokal kedua. Saya misalkan begini: dalam bahasa Indonesia ada lagu SMS yang bunyinya “Bang, SMS siapa ini Bang” (sebut saja lokal pertama). Kemudian digiring ke dalam bahasa Aceh secara utuh, “Bang, SMS Seupoe nyoe hai Bang” (lokal kedua). Ini penerjemahan secara terang-terangan. Ada juga penerjemahan yang hanya menyesuaikan irama. Kebiasaanya pada lagu-lagu India, seperti “Ko hey me le gaya” menjadi “Meulumpo keu kaya”. Pada lagu “Sanem” diiramakan dalam bahasa Aceh menjadi “Zahara dara idaman/ aneuk gampông nyang ulon cinta”. Jauh hari sebelum Kardinata melantunkan lagu Zahara itu, Ashraf sudah duluan menyadurnya menjadi sebuah lagu “Tujuh kata cinta yang kau ucap/ kini selalu masih kuteringat”. Artinya, telah dilakukan penyaduran dari bahasa orang menjadi bahasa dia, yang kemudian dikatakan itu sebagai karya dia.

Jika hal seperti ini disebut telah menduduki peran kreatif yang tinggi, betapa mudah sekali menjadi pencipta karya sastra. Tinggal ambil karya orang, terjemahkan dalam bahasa sendiri, katakan sebagai karya sendiri. Lantas, di mana letak kontemplasi proses penciptaan? Apalagi terhadap puisi, setahu saya, menciptakan puisi itu membutuhkan kontemplasi yang sangat mendalam sehingga setiap kata memiliki makna dan tidak akan pernah terbuang. Itu makanya, Ajib Rosidi menyatakan plagiat itu dapat terjadi pada karya secara sebagian, juga keseluruhan.

Adapun tentang Goenawan Mohamad (GM) yang menyatakan puisi tidak dapat diterjemahkan sehingga ada yang berprasangka Soneta 49 dan Soneta 52 adalah milik Fozan, perlu diluruskan. GM mengatakan seperti itu karena dia mahfum setiap kata dalam puisi menduduki makna yang jika diinterpretasikan dapat menimbulkan multitafsir. GM khawatir makna pertama yang dimaksudkan oleh si penyair tidak kesampaian tatkala diterjemahkan oleh penyair yang lain. Makanya dia berpendapat puisi tidak layak diterjemahkan. Hal ini dapat dilihat ketika Fozan menerjemahkan No one can stop the river of the dawn menjadi “Tak ada yang sanggup menghambat sungai baru”, ternyata ada pula yang menerjemahkannya, “Tak seorang pun dapat menghentikan sungai fajar itu”.

Terjadi perbedaan seperti ini karena diterjemahkan oleh lain orang. Tidak tertutup kemungkinan, jika diterjemahkan oleh orang lain lagi, akan lain pula hasilnya. Atau kalau saya boleh ikut menerjemahkannya, akan saya ucapkan, “Tak ada yang mampu menghentikan aliran subuh.” Hal ini sesuai dengan hasil interpretasi saya bahwa soneta tersebut bercerita tentang cinta dan rindu yang dipersonifikasikan Neruda melalui alam secara abstrak, yakni ada kata silam, cahaya, esok, dan subuh. Hemat saya, empat kata ini adalah kata kunci dalam setiap barisnya. Karena itu, daripada penggunaan frasa “sungai baru” dan “sungai fajar”, yang penafsirannya akan menjadi nomina, saya lebih senang menggunakan “aliran fajar” yang masih abstrak seperti kata kunci lainnya: silam, cahaya, dan esok. Nah, bagaimana pula jika sajak tersebut diterjemahkan oleh pengarangnya—Neruda—langsung, akan lain pula mungkin penuturannya, sebab tahulah kita kemampuan berbahasa Indonesia Neruda. Lantas, salahkah proses penerjemahan tersebut? Tentu tidak, sebab ia diterjemahkan secara bebas oleh lain orang. Karena itu, sejatinya penerjemah adalah orang yang bukan sekedar paham bahasa asing yang diterjemahkannya, tapi juga memahami apa yang dia terjemahkan sehingga makna pertama tidak melenceng.

Ingat, ada kata kunci dalam proses sastra ini, yaitu “terjemah”, artinya bukan hasil penciptaan pertama, melainkan hasil kontemplasi dari yang sudah ada. Oleh karena itu, di bagian akhir tulisannya, Fozan dengan jelas mengatakan “Soneta di atas dialihbahasakan dari versi Inggris Cien Sonetos de Amor.” Hal ini dilakukan Fozan agar dia tidak ingin dikatakan sebagai pengarang penyadur. Ia hanya ingin berkata bahwa telah menerjemahkan Soneta Neruda dari versi Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Artinya, ia tidak ‘gila’ mengatakan karya orang menjadi karya dia. Ini pulalah sebenarnya yang saya ungkapkan melalui “Epigram untuk Fozan Santa”, karena saya tahu Fozan mahfum benar tentang proses penciptaan sebuah karya, mana yang dikatakan plagiat, penyadur, penerjemah, atau karya dasar (asli). Namun, bayak orang salah pengertian ketika memahami tulisan saya itu sehingga beranggapan saya telah menuduh Fozan plagiat.

Padahal, kalau mau memahami dengan baik, Epigram itu hanya menegaskan bahwa Fozan sebenarnya penerjemah, bukan pengkarya terhadap Soneta 49 dan Soneta 52 sehingga perlu ditanyakan mengapa kata “karya” bisa melekat di belakang nama Fozan Santa. Jangan-jangan itu terjadi karena kelemahan pemahaman dari redaktur sebuah media. Oleh karenanya, pada sebuah paragraf, saya katakan seorang redakur budaya (sastra) mesti memahami benar terhadap proses kreatif pengkarya sehingga tidak gelagapan menerima karya orang, lantas membubuhkan kata “karya” di depan nama si pengirim naskah. Ini persoalan manajemen, bahwa memberikan (mempercayakan) sesuatu mesti kepada ahlinya. Jika tidak, ya begini jadinya. Orang mengirimkan karya terjemahan, oleh si penerima dengan gamblang mengatakan karya asli si pengirim, mungkin karena berpikir bahwa yang mengirimkan naskah sudah punya nama besar.

Sekali lagi, kekurang-yakinan saya bahwa Fozan berani meletakkan kata “karya” di depan nama dia terhadap Soneta itu berdasarkan pantauan saya pada Soneta 45 dan Soneta 80 yang dimuat di Harian Aceh. Di sana jelas Fozan menyebutkan “Soneta Soneta Neruda” diterjemahkan oleh Fozan Santa dari versi Inggris. Tidak ada kata “karya: Fozan Santa” pada sajak yang dimuat Harian Aceh itu. Makanya, saya masih mempertanyakan apakah benar Fozan yang melabelkan kata “karya” di depan nama dia? Bukan malah menuduh dia plagiat seperti sangkaan banyak penikmat sastra.
Akhirnya, harus dipahami dan dibedakan pula makna dari setiap kata: plagiat, penyadur, penerjemah, pencontoh, dan penyair/pengarang/penulis asli. Sejatinya, seorang tukang kritik terhadap hasil kritikan orang, mencermati benar setiap baris kalimat yang akan dikritiknya seperti memahami makna kata-kata tersebut di atas. Kita tak ingin memperbanyak salah paham, apalagi sudah dekat hari lebaran, sudah waktunya bermaafan, bukan menanam dendam hanya dari sebuah prasangkaan. [Herman RN | Alumni PBSID Unsyiah]

Read More...

18 September 2008

Petak Umpet

oleh Herman RN

Masih ingat haba “Bendera” yang saya tulis beberapa waktu lalu? Itu, cerita tentang penurunan bendera kelompok sendiri demi mencari simpati. Nah, kini irama itu berkisar pada tempat hunian. Mau tahu ceritanya?



Di kampung bernama Lamsulet, sedang terjadi pemilihan kepala desa. Kendati isi kampung itu tidak lebih dari 50 KK, pembentukan kubu-kubu ingin memenangkan calonnya sebagai kepala desa terbentuk hingga enam kelompok. Masing-masing kelompok memiliki markas tersendiri.

Jadwal pemilihan kepala desa beserta perangkatnya semakin dekat. Si Apa Uda’ mulai susun strategi. Mulanya dia perintahkan anak buahnya menyebarkan selebaran tentang betapa bagus dan hebatnya perjuangan dia jika kelak terpilih menjadi kepala desa. Tak berhasil lewat selebaran, dimanfaatkannya kecanggihan teknologi. SMS demi SMS mulai beredar yang memaparkan bahwa kelompok Apa Uda’ adalah pejuang kampong yang akan memajukan kampong Lamsulet.

“Tahue leumo deungon taloe, tahue manusia deungon akai”. Mulailah Apa Uda’ main akal-akalan. “Aku akan meninggalkan markaz kita malam ini. Aku tidak tidur di markaz. Maka, laksanakanlah rencana kita,” ucap Apa Uda’ berwasiat kepada anggotanya.

Seperti yang direncanakan, malam itu markaz kumpulan Apa Uda’ terbakar. Anehnya, hanya sedikit, tak habis selembar pintu pun. Padahal, markaz dia berkonstruksi kayu. Kabarnya, kebakaran markaz Apa uda’ lekas diantisipasi warga. Entah siapa pula yang membawa kabar kalau markaz Apa Uda’ terbakar malam itu sehingga saat api baru saja menjulurkan lidahnya, orang-orang kampung sudah berduyun di depan markaz tersebut.

“Ini kerja orang-orang yang tidak mencintai perdamaian,” ujar Apa Uda’ saat diwawancara wartawan.

Belum hilang dalam ingatan keluh kesah warga kampung Lamsulet tentang terbakarnya markaz Apa Uda’, keesokan harinya, gudang Apa Uda’ pula yang dilahap si jago merah. Modusnya serupa, saat api baru memercikkan bunganya, orang-orang kampung sudah berduyun menyiram air ke gudang tersebut. Selamatlah segala harta Apa Uda’ dalam gudang itu.

Marahkah Apa Uda’? Tidak! Dia malah mengeluarkan kalimat serupa saat markaznya terbakar. “Ternyata orang-orang yang tidak suka dengan perdamaian di kampung kita masih memburu kami. Kami tidak marah pada orang yang melakukannya. Hanya sangat kita sayangkan, masih ada yang tidak mencintai perdamaian,” kata Apa Uda’ yang lagi-lagi menjual kata “damai”.

Cerita belum berakhir sampai di sini. Esok harinya, giliran rumah Apa Uda’ yang terbakar. Keanehan kembali terjadi, Apa uda’, istrinya, anak-anaknya, beserta dokumen-dokumen berharga milik dia masih selamat. Pasalnya, yang terbakar rumah bagian depan, sedangkan istri, anak, dan dokumen-dokumennya ada di kamar belakang. Padahal, biasanya semua mereka di kamar depan. Dan Apa Uda’ hanya bilang, “Ini cobaan bagi saya.”

Begitulah kasus bakar membakar di kampung Lamsulet yang penuh sulet itu. Warga yang semula menaruh simpati dengan terbakarnya markaz Apa Uda’ menjadi mulai kurang percaya dengan kasus pembakaran tersebut.

“Paling semua itu dia sendiri yang bakar supaya kita masyarakat ini menaruh simpati pada dia. Buktinya, semua selamat dan tidak benar-benar terbakar seperti kejadian pembakaran di kampung-kampung lain,” kata Pang Dolah berkomentar.

Seorang wartawan yang bertugas meliput di kampung itu ikut berkata. “Jika demikian adanya, kami wartawan tak perlu lagi harus bersusah payah meliput markaz, gudang, dan rumah Apa Uda’ meskipun dia suruh kami liput,” katanya. Ada pula yang ikut berceloteh begini, “Kita tunggu saja Apa Uda’ membakar kampungnya, jika memang dia ingin simpati rakyat.” Entahlah, entah siapa membakar siapa…

Ureueng aréh memang hantom kanjai, ureueng le akai hana binasa. Namun, daripada bakar membakar, bukankah lebih baik memelihara yang sudah ada? Hom hai… Apa Uda’ sedang main petak umpet rupanya.

Read More...

Islam

oleh Herman RN

Suatu hari kawan saya pernah berujar, “Ayat Allah bukan untuk dijual dan bukan untuk diperjudikan.” Hal itu dikatakannya saat mengomentari Musabaqah Tilawatil Qur’an di suatu tempat. Dia menilai, perhelatan MTQ tidak lebih dari jual ayat serupa orang kampanye. Di samping itu, menurut kawan saya yang tak etis saya sebutkan namanya di sini, ajang MTQ juga sama halnya dengan judi, yakni bernasib-nasiban mencari keuntungan dari pembacaan kalam Ilahi. Itu makanya dia kurang setuju.



“Ah, kawan, aku tak tahu kau dari golongan mana sehingga berujar seperti itu,” kataku menanggapi keluhannya.

Kupikir masalah itu sudah selesai. Ternyata, saat salah satu syarat kelulusan calon legeslatif di Aceh ini dikatakan harus mampu membaca Al-Quran, kawan saya tadi kembali berkomentar. “Nah, coba lihat, ke mana arah Islam mereka bawa. Demi urusan politik pun, Al-Quran kembali diperlombakan. Nanti, setelah lulus baca Quran, pekerjaannya tetap menipu rakyat. Makanya kubilang Al-Quran itu bukan untuk dijual atau diperjudikan,” katanya.

Mungkin temanku itu ada benarnya. Namun, aku melihat sisi lain dari kegiatan uji kemampuan baca Al-Quran bagi para caleg. Jika kawanku itu pesimis anggota dewan terhormat nantinya dijabat oleh para pembaca Al-Quran, sedangkan ditakutkan perbuatan mereka tidak mencerminkan apa yang dikandung Quran (dan Hadis), maka pertanyaan berikutnya, bagaimana pula jika yang menjadi anggota dewan kelak dari orang yang sama sekali tidak mampu membaca Al-Quran?

Kawanku, mungkin inilah salah satu yang ditamsilkan sebagai Islam KTP. Terlepas dari islam-islaman itu, yang patut diingat adalah kampong kita ini pintu gerbang masuknya Islam pertama di Nusantara. Tak dapat dipungkiri pula bahwa penduduk asli kampong kita penganut agama Islam. Bagaimana jika yang duduk di kursi terhormat, hanya orang yang islam-islaman? Membaca Al-Quran saja dia tidak mampu?

Sungguh kawan, aku terkejut membaca berita di media kampong kita. Dikatakan bahwa di rata daerah, puluhan bakal caleg gagal dalam uji kemampuan baca Al-Quran. Yang sangat kuterkejut lagi adalah para bakal caleg itu—jika kita telusuri, merupakan orang-orang yang berwawasan luas dan berpendidikan tinggi. Ah, ternyata baca Al-Quran surat pendek saja tidak lulus.

Maaf kawan, bukan maksudku hendak menjelekkan mereka. Sungguh tak ada maksud untuk itu, apalagi sekarang sedang bulan puasa. Bulan yang bukan puasa saja kita dilarang saling menjelekkan. Namun, sekali lagi, karena kampong kita ini bernama Aceh. Kampong yang katanya sudah ikhlas menerima penerapan syariat Islam. Kampong yang apabila disebutkan namanya saja, bangsa-bangsa luar akan lekas berpikir, “Itu kampongnya orang-orang Islam.”

Kawan, aku jadi teringat sebuah kisah yang diceritakan seorang teman. Katanya, jika orang Aceh bepergian ke luar semisal ke pulau Jawa atau boleh jadi ke luar negeri, sering diminta menjadi imam saat salat berjamaah. Ingat, sudah menjadi trend daerah kita, anggota dewa suka bepergian, studi banding, katanya. Nah, andai saja di luar nantinya ada yang meminta kepada anggota dewan kita menjadi imam, sungguh aku tak tahu apa yang terjadi, jika permintaan itu ditujukan kepada anggota dewan yang lulus tanpa bisa membaca Al-Quran.

Kawan, mungkin ini kesedihan kesekian yang patut kita berbagi. Sebab, aku yakin tidak seorang pun dari kita mau menyandang malu karena image jamaah. Misalnya, begitu ketahuan seorang dari orang kampong kita tidak mampu menjadi imam karena dasar membaca ayat Allah tidak ada, maka kita sebagai orang satu kampong akan mendapat aibnya semisal anggapan, “Apa juga orang Aceh, baca Alfatihah saja tida bisa.” Ibaratnya seperti petuah indatu, “Alèe tob beulacan, nyang malèe ureueng jak sajan.”
Maka dari itu, terserah padamu, kawan. Apakah menurutmu uji kemampuan membaca Al-Quran itu masih tidak penting? Terserah pula kepada KIP dan tim pengujinya. Jika memang mereka terpaksa diluluskan semua (bisa baca Al-Quran ataupun tidak) karena pertimbangan tidak ada yang lain, apa boleh bulat pula di saya. Namun, kearifan ureueng Aceh tidak menyebutkan “Daripada tak ada, lebih baik ada (walaupun rusak).” Akan tetapi, ureueng Aceh akan bilang “Leubèh göt rhô nibak singèt, leubèh göt buta nibak juléng.”

Read More...

14 September 2008

Daud

Haba Herman RN
Kancah politik di Aceh Besar semakin hangat saja. Bagaimana tidak, kisruh mundurnya seorang pimpinan yang dahulu terpilih secara demokratis oleh rakyat ternyata tidak diladeni oleh anggota dewan. Dan sekarang, suhu politik di sana semakin memuncak dengan pengakuan sang pemimpin yang mau menjalankan roda pemerintahannya kembali sampai anggota dewan mau menerima surat pengunduran dirinya.



Menariknya, ada sinyalemen, sekelompok orang dalam sebuah lembaga yang dulunya mendukung Daud jadi pemimpin, kepanasan sebab tak dapat bagian proyek. Hatta, ini salah satu isu penyebab pengunduran diri si Daud. Tentu saja ada yang suka, ada yang tidak, terkait ketidakmauan Daud memberikan ‘kado’ untuk sebuah lembaga itu, yang mendukung Daud masa hendak menjadi bupati.

Menurut Apa Dolah, ketidakmauan Daud memberikan proyek kepada lembaga yang pernah mengusungnya tidak bisa menjatuhkan vonis terhadap Daud bahwa dia adalah boh panah dalam hadih maja “Awai boh bayeuk dudo boh panah, panee lom leumah sinalop kana.”

Pasalnya, Daud yang dikenal sufi itu sangat mahfum makna boh panah dan boh bayeuk dalam menjalankan kehidupannya. Itu kata Apa Dolah. Sebab, hadih maja tersebut sangat jelas menginginkan kalimat lanjutan, “Meunyo hana ék tatimbôn tamah, panee lom leumah guna meuguna.” Artinya, siapa mencari guna siapa, masih menjadi pertanyaan dari kasus pemimpin Aceh Besar tersebut. Andaikan hadih maja tersebut diucapkan oleh lembaga yang pernah mengusung Daud jadi pemimpin, tentunya bermaksud hendak mengatakan bahwa Daud tak lebih dari “Kacang lupa kulit”. Namun, andai saja hadih maja itu, Daud yang duluan mengutarakannya, artinya lembaga dimaksud terlalu berharap imbalan pribadi. Padahal, citra lembaga tersebut sempat menjadi harum dengan kelugasan kepemimpinan Daud selama memimpin Aceh Besar.

Terhadap siapa yang duluan mengutarakan hadih maja itu, Apa Dolah belum tahu pasti. Ini pula yang sedang diselidiki oleh sejumlah kalangan, meskipun Daud, kemarin, sudah mengatakan beberapa hal penyebab ia mengundurkan diri. Salah satu alasan disebutkannya karena politik panas di wilayah Aceh Besar. Ada yang percaya, ada yang tidak terhadap alasan itu, sebab panggung sudah dimulai oleh Daud. Jika memang sekedar berdalih politik panas di daerahnya, politik di daerah mana pula yang tidak mungkin panas sehingga Daud harus menulis tangan surat pengunduran dirinya sampai tiga lembar? Atau, jika sekedar politik itu panas yang menjadi alasan dia mengundurkan diri, mengapa pula baru sekarang dia ungkapkan? Berat sangatkah mengatakan kalimat “politik itu panas” dari awal sehingga mesti membuat kancah pemerintahan Aceh serupa biduk kertas di tengah laut?

Ah, tak ada yang tahu pasti tentang itu. Yang jelas, kembalinya Daud dalam sismtem pemerintahan Aceh Besar mengingatkan Apa Dolah pada seorang filsuf Rusia, Leo Tolstoy. Kata Tolstoy, “Arti sejati kehidupan adalah mengabdi pada nilai-nilai kemanusiaan.” Lantas, yang mengacaukan kehidupan manusia(rakyat), apa pula namanya? Hom hai..

Read More...

12 September 2008

Putri “Singa Referendum Aceh” Ingin Melanjutkan Cita-cita Mak


UMURNYA masih 18 tahun. Malangnya, dia juga tak sempat melihat wajah ayu ibunya untuk terakhir kali. Kejadian itu sangat mendadak dan di luar keinginannya. Ibunya meninggal dalam amukan tsunami yang melanda daratan Aceh tahun 2004, empat tahun silam.



Sebelumnya, dia juga jarang melihat ibunya, kecuali saat lebaran atau saat ibunya menjenguk dia di pesantren. Maklum, sejak SMP, Icut, demikian gadis bernama lengkap Cut Endang Puspa Sari ini biasa disapa, tinggal di Pesantren Jeumala Amal, Lueng Putu, Pidie Jaya. Tamat dari Jeumala tahun 2002, Icut melanjutkan ke Madrasah Aliyah Darunnajah, Jakarta. Waktu untuk bertemu ibunya juga sangat terbatas, karena ketaatannya peraturan di pesantren. Baru saat liburan atau pada hari besar Islam saja, Icut bisa berkumpul dengan keluarganya, terutama ibunya. Itu pun jika ibunya tidak sibuk. Sebab, tahun 2002, aktivitas ibunya sebagai seorang aktivis dan pejuang sangat padat. Banyak waktunya dihabiskan dalam kancah perjuangan.

Ketika menempuh pendidikan di Jakarta, tak banyak kesempatan bagi gadis berkaca mata ini bertemu ibunya, sebabbegitu Cessation of Hostilities Agreement (CoHA) gagal pada medio 2003, ibunya dijebloskan ke dalam penjara, setelah ditangkap saat penggerebekan di Hotel Rajawali, tahun 2003. Sejak itu, ibunya resmi menjadi tahanan Polresta (sekarang Poltabes Banda Aceh), sebelum dipindahkan ke rumah tahanan di Lhoknga.

Sejak dipindahkan ke rumah tahanan itu, hari-hari indah Ibu Cut laksana berhenti, digantikan dengan hari-hari suram. Kondisi ini yang dirasakan oleh keluarga, famili, dan orang-orang yang satu perjuangannya dengannya.

“Andai waktu bisa berputar,” hanya kalimat lirih ini yang mampu diucapkan Cut Endang untuk mengingat almarhumah ibunya. Kalimat itu kini terlukis indah di potret ibunya yang sedang tersenyum. Kata Cut, berita meninggal bundanya diketahui setelah 2 minggu kejadian, melalui warga Lhoknga. Icut langsung pulang ke Aceh, setelah seminggu tsunami berlalu.

Kini, putri dari “Singa Referendum Aceh” Cut Nur Asikin ini sedang menimba ilmu di Mesir, tepatnya di Universitas Al-Azhar. Gadis yang menyukai bacaan Al Quran ini sudah menduduki tingkat 4, atau tingkat akhir kuliah. Icut bercerita, perjuangannya kuliah ke Mesir termasuk berat. Pasalnya, saat berangkat tahun 2005 lalu, tak ada keluarganya yang setuju. Gadis berjilbab ini mengaku lari ke Mesir karena ingin memperdalam ilmu agama di sana.

“Lon Plueng,” kata alumni Dayah Jeumala Amal, Lueng Putuk, tahun 2002 ini. Di sana, Icut ingin menenangkan jiwanya, yang sedang perih selepas ditinggal ibu tercinta. Katanya, ketenangan itu hanya bisa didapatnya di Mesir, tanah kelahiran para ulama besar. Makanya, setamat dari Madrasah Aliyah Darunnajah, Jakarta, tahun 2005, dirinya langsung terbang ke Mesir, bukan memilih kembali ke Aceh.

Di Mesir, Cut tinggal di Masakin Utsman Nasr City, Cairo. Jika pernah membaca novel Ketika Cinta Bertasbih (KCB) karya Habiburrahman El Shirazy, anda pasti tahu tentang Masakin Utsman. Di novel yang hendak diangkat ke layar lebar tersebut, Masakin Utsman disebut tempat tinggalnya Anna (tokoh utama wanita) dan Cut Mala, seorang wanita kelahiran Aceh.

Jika tak ada aral melintang, karya penulis Ayat-ayat Cinta ini juga akan mengikuti kesuksesan film Ayat-ayat Cinta yang fenomenal tersebut. Kini, film itu sedang proses audisi untuk memilih figur yang tepat memerankan sosok Azzam dan Anna, serta pemain pendukung lainnya. Selain itu, para kru film tersebut sedang memilih tempat untuk lokasi syuting, yang menggambarkan kondisi seperti di dalam novel. Salah satu tempat yang bakal dipilih tersebut adalah Masakin Utsman.

“Bukan di dekat, tapi di rumah ini,” jawabnya saat ditanya, apa benar lokasi syuting Film Ketika Cinta Bertasbih tersebut dilakukan di dekat tempat tinggalnya sekarang.
Cewek berkacamata ini menuturkan, informasi bakal digunakan tempat tinggalnya sebagai lokasi syuting langsung dari sutradara film KCB, Chaerul Umam. Chaerul, kata Icut, sudah dua kali ke sana (Mesir). Saat itu, lanjut Icut, si sutradara hanya mengatakan bahwa rumahnya nanti akan direnovasi agar cocok dengan nuansa di dalam novel. Pun begitu, aku Icut, ada teman-temannya yang nggak setuju rumahnya yang berbentuk Flat (sejenis apartemen) itu dipakai untuk lokasi syuting.

“Kalau rumahnya dipakai, kan harus dicat ulang, bikin ribet,” ujar Icut tentang alasan kenapa teman-temannya tidak setuju rumah mereka dipakai. Padahal, seperti dituturkan sang sutradara kepadanya, yang dipakai cuma kamar sama ruang tamunya. Mereka (tim dari KCB) rencana akan menggunakan lokasi tersebut selama dua hari, untuk mengambil gambar 4 skets. “Mungkin setelah lebaran, mereka mulai melakukan syuting,” jelas gadis kelahiran Banda Aceh, 29 September 1987 silam menirukan perkataan Chaerul.

Menurut anak keempat dari pasangan H. Bahrumsyah dan Cut Nur Asikin ini, pemotretan di rumah tersebut dilakukan saat adegan Anna menerima telepon, adegan Anna dilamar dan saat ngobrol bareng teman-temannya. “Begitu ceritanya kalau tidak salah,” kata gadis cantik berusia 21 tahun ini.

Cut yang sebentar lagi tamat kuliah, mengaku belum tahu ingin jadi apa ketika selesai kuliah nanti. Tapi, gadis yang menguasai Bahasa Arab dan Inggris ini akan mengikuti jejak ibunya, Cut Nur Asikin, jadi pengusaha sukses. “Ingin bikin hotel,” katanya singkat. Tak hanya itu, Cut ingin mengembangkan Yayasan Srikandi Aceh yang didirikan mamanya. Menurutnya, itulah yang bisa dilakukan untuk mengenang ibunya, yang terakhir ditemuinya di penjara, saat Idul Fitri tahun 2004, sebelum dipanggil oleh Allah dalam musibah tsunami, 26 Desember 2004.fik (HA 130908)

Read More...

Aceh, Laboratorium Konflik


Mungkin sudah digariskan, Aceh menjadi daerah konflik sepanjang masa. Hal ini terlihat dari sebuah buku karangan Anthony Reid, seorang ahli sejarah Asia Tenggara yang pernah belajar di Selandia Baru dan Cambridge. Dalam buku yang diberi judul “Asal Mula Konflik Aceh” itu disebutkan bahwa Aceh sudah bergejolak dalam konflik sebelum bergabung bersama Indonesia hingga akhir abad 19, saat Aceh ditetapkan menjadi salah satu wilayah Kesatuan Republik Indonesia, pun Aceh dalam konflik.



Judul Buku : Asal Mula Konflik Aceh
Penulis : Anthony Reid
Penerjemah : Masri Maris
Edisi : Juli 2005
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia
Tebal : 372 + xviii hlm. : 16 x 24 cm


Menurut Reid, dalam buku itu, jika pada tahun 1870-an, orang Aceh pernah menjadi korban agresi Belanda dan realpolitik Inggris, selanjutnya Aceh juga menjadi korban tak berdosa dari negara yang merangkulnya menjadi sebuah wilayah kesatuan republik. Tak cukup sampai di situ, kekaguman Reid, yang saat ini menjadi Direktur Asia Research Intitute di National of Singapore, mengatakan bahwa Aceh sebagai korban tak bersalah juga harus mengalami derita setelah diamuk gelombang tsunami.

Mungkin, anggapan bahwa Aceh adalah laboratorium percobaan memang tepat sekali dan sebagai wadah percobaan, Allah swt. pun melakoni itu. Lihat saja, gejolak kekacauan di Aceh belum pudar hingga sekarang. Jika zaman indatu Aceh dicoba dengan perang melawan kaphé Beulanda, setelah Belanda angkat kaki dari Bumi Fansuri ini, perang tetap berlanjut. Perang cumbok hingga pemberontakan DI/TII merupakan percobaan demi percobaan untuk Aceh. Setelah merdeka pun, perang masih juga ada. Kemudian, Aceh dicoba melalui metode baru, yakni air laut naik ke darat. Pasca-air laut naik, pun kenyataannya konflik masih juga belum berakhir di Bumi Iskandar Muda ini. Masalah pembagian bantuan kepada korban bencana saja, tetap menimbulkan konflik. Hal itu masih ada sampai sekarang. Demikian hebatnya Aceh dalam konflik hingga daerah ini pun mendapat gelar sebagai laboratorium percobaan atau mungkin pula sebagai laboratorium konflik, sehingga Indonesia yang mengakui Aceh sebagai salah satu wilayah kesatuannya, pun ikut-ikutan menggelar percobaan di Aceh. Percobaan ala Indonesia itu sangat jelas dengan beberapa ketetapan dan kebijakan untuk Aceh semisal dicoba beri julukan daerah istimewa, lantas dicoba dengan kebijakan syariat Islam, mungkin pula penerapan Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UU PA) juga salah satu percobaan Indonesia apakah Aceh mampu mengelola daerahnya atau tidak.

Kendati mengalami gejolak percobaan panjang dan berliku, bermula konflik di Aceh, menurut buku Reid ini, Aceh tidak pernah menjadi pemberitaan utama dunia. Melatarbelakangi anggapan tersebutlah, Reid akhirnya memutuskan untuk mengadakan penelitian tentang Aceh. Penelitian tersebut dirangkumnya menjadi sebuah disertasi pendidikannya saat di Cambridge University. Disertasi doktoral itu kemudian dijadikannya sebuah buku bertajuk “Asal Mula Konflik Aceh”.

Laiknya sebuah disertasi, data dan fakta dalam buku ini juga dapat dijadikan sebagai pembenaran terhadap kisah panjang konflik di Aceh. Mulanya disertasi tersebut masih dalam bahasa Inggris. Agar dapat dibaca oleh bangsa Melayu pada umumnya dan Indonesia (Aceh ) khusunya, disertasi tersebut diterjemahkan oleh Masri Maris dan diterbitkan oleh Yayasan Obor. Penerjemahan disesuaikan dengan kondisi realitas yang ada. Hal ini diakui langsung oleh Masri dalam pengantarnya terhadap buku tersebut. Kendati demikian, teks asli dari disertasi Reid masih utuh, sebab ia diterjemahkan dengan utuh. “Kecuali judulnya,” tulis Masri.

Buku setebal 372 halaman itu juga dilengkapi dengan lampiran foto-foto sejarah Aceh masa lampau, data statistik penduduk Belanda di Aceh semasa menjajah daerah ini—baik yang tewas dalam perang maupu karena penyakit, dan sebagainya. Kecuali itu, buku ini juga dilampiri dengan statistik perdagangan Aceh masa silam semisal perdagangan Penang dan Aceh, juga dilengkapi dengan indeks.

Sebagai sebuah buku sejarah, “Asal Mula Konflik Aceh” ini penting dibaca oleh siapa saja, terutama bagi peneliti yang hendak tahu lebih banyak tentang Aceh, agresi militer, dan geliat Belanda dalam menerapkan politik perdagangannya hingga menjadi bangsa penjajah. Belanda dikenal orang Aceh dengan kelicikan pola pemerintahan dan pertaniannya diulas secara rinci oleh Reid. Reid mengumpulkan data-data sejarah tersebut dari arsip historis bangsa Eropa (terutama Belanda dan Inggris) sehingga sulit dibantah kebenarannya bahwa Aceh memang daerah modal. Diulas oleh Herman RN, pengelola desk Budaya Harian Aceh.


Read More...

Mantra

oleh Herman RN

Hei alu kapi alu, gunong geulungku bak teungoh jalan, bandum sebab na bak jaroeku, keudéh bak Allah pulang keumatian. Dari Tiro sampoe u Bireuen, katrép meujangeun keulinci percobaan. Pat droeneuh? Bungong jeumpa bungong meulu, keulhèe bungong sigura-gura. Jinoe ka trôh di Simpang Maplam, ileumèe dalam lon cuba-cuba. Huh…



Entah darimana Apa Dolah mendapatkan mantra itu, tiba-tiba saja dia ingin mencobanya. Menurut dia, mungkin karena sekarang bulan puasa, cukup mujarab bagi segala mantra. Apalagi, firasatnya mengatakan bahwa mantra dia adalah suci, dituntut pada orang-orang suci, di masjid pula. Maka, dicobalah praktik ilmu dalamnya itu, yang orang-orang seberang bilang “Ilmu Kanu Ragan”. Apa Dolah mencoba pada teman sekerjanya.

Tob kiri tob kanan, kuhila riwang-riwéng, beusoe putéh beusoe itam, han dipajôh badan watèe ulon ngieng. Sret.. disabetlah leher Pang Saman, teman seperguruannya, seusai membaca kalimat terakhir dari mantranya. Darah muncrat ke kiri dan kanan, melekat di pucuk-pucuk daun. Pasalnya, saat Apa Dolah menyabetkan rencongnya ke leher Pang Saman, mereka sedang gotong royong di halaman sebuah masjid.

Pang Saman tergeletak di tanah bersimbah merah. Belum habis masa sekarat Pang Saman, Apa Dolah kembali menghambur ke arah temannya yang lain, Geuchik Ma’un. Geuchik Ma’un pun mendapat tusukan rencong Apa Dolah. Demikian seterusnya, Apa Dolah terus berpindah ke rekan-rekannya yang lain. Dua, tiga, lima, sudah berjatuhan. Semuanya bermandikan darah. Lambat-laun mereka yang ditebas, ditusuk, dan disabet, itu tak berkutik lagi.

“Hahahaha…” Apa Dolah tertawa puas, karena lama sudah dia merindukan dapat mempraktik ilmu dalamnya. Hari itu, sudah terwujud. Sayangnya, rekan-rekan seperguruannya, yang dia jadikan sebagai kelinci percobaan, tewas semua. Apa Dolah pun akhirnya berurusan dengan polisi.

Usut punya usut, Apa Dolah dan rekan-rekannya itu berguru tentang ‘ilmu suci’ katanya. Tempat belajar mereka pun tak tanggung-tanggung, di rumah tuhan. Namun, entah dari mana punca itu bermula, ilmu yang didapat Apa Dolah telah merenggut nyawa temannya sendiri. Padahal, sang guru pernah berwasiat, menuntôt beusunggô-sunggôh, bek awai pioh sigolom trôh bak punca.

Namun, kelihatannya Apa Dolah terpancing dengan gelagat akrobat maut yang sering ditontonnya dari orang-orang yang menjual ayat Tuhan saat bermain. Akhirnya, Apa Dolah pun mencoba, karena dia beranggapan sudah mampu membaca kitab kuning. Sang guru, entah sedang apa saat itu sehingga hanya melihat saja lakon muridnya. Padahal, ilmu Apa Dolah, dia yang beri.

Sedikit lagi tentang Apa Dolah. Dia ikut perguruan itu juga karena ikut-ikutan. Dia melihat teman-temannya dijuluki suci dengan terlibat dalam perguruan tersebut, sebab kelompok itu mendulang ilmunya dari satu masijd ke masjid yang lain, dari satu kampong ke kampon lain. Maka, ikutlah Apa Dolah dalam klompotan tersebut. Andai saja, Apa Dolah ingat, bahwa buet bèk teumirèe, tapi meugurèe, mungkih itu tak terjadi. Satu lagi, ada pepatah mengatakan, “Buet gob bèk tarindu, meukeumat iku han ék tahila.” Kenyataannya, Apa Dolah memang sudah meukeumat ngon polisi. Dan perguruan mereka pun mulai dibicarakan seperti orang-orang membicarakan bintang di langit. Jadilah bintanglah kelompok perguruan Apa Dolah.

Read More...

Aceh Butuh Polmas?

Oleh Herman RN

Tulisan ini terinspirasi setelah saya mengikuti seminar tentang Polisi Masyarakat (Polmas) yang diadakan oleh International Organization for Migration (IOM) pada 24 April kemarin. Lembaga organisasi dunia untuk migrasi itu mengadakan seminar tentang perpolisian masyarakat yang katanya sebagai jembatan antara masyarakat dengan polisi, dengan tujuan agar Aceh benar-benar aman. Atas keresahan mereka yang takut Aceh kembali ribut sehingga mencoba memberikan solusi Polmas itu, keresahan saya pun timbul hingga membuahkan tulisan ini. Semoga saja keresahan sebagai anak Aceh tidak salah jika saya tuangkan di ruang ini.



Tak ada seorang manusia normal pun di dunia ini yang menginginkan konflik. Itu sudah pasti. Setiap manusia sudah jelas mengingkan kedamaian. Maka ide dan gagasan menerapkan Polmas di Aceh tentunya perlu mendapat aplaus. Apalagi, Polmas yang dalam istilah Ingggris disebut dengan community policing dikatakan untuk mewujudkan keamanan dan ketertiban dalam kehidupan masyarakat (Kamtibmas). Namun, perlu diingat, apa pun istilahnya, yang namanya polisi, di Aceh sudah mendapat tinta merah dalam hati masyarakatnya. Polisi tetap cenderung ditakuti masyarakat.
Sedih memang jika kita mengingat semua itu. Polisi yang katanya adalah mitra masyarakat, pelindung dan pengayom masyarakat, mesti ditakuti oleh masyarakat. Siapa yang salah, masyarakat atau polisi?
Dari pihak masyarakat sendiri selalu merasa ngeri dengan yang namanya polisi, seolah polisi menjadi ma’op dalam setiap langkah masyarakat, bukan pelindung. Sementara itu, dari pihak kepolisian, mereka selalu merasa bertanggung jawab atas keamanan dan kenyamanan di lingkungan masyarakat. Rasa tanggung jawab itu terkadang menimbulkan sikap arogansi dari pihak kepolisian. Saya misalkan saja melalui ilustrasi di bawah ini.
Sebuah mobil tersenggol sepeda motor. Karena kejadiannya di jalan raya, polisi yang melihat kejadian itu merasa berkewajiban menangani dengan alasan kenyamanan pengguna jalan raya. Padahal, tanpa polisi, kedua orang tadi sudah sepakat berdamai. Si pembawa sepeda motor berjanji memperbaiki cat mobil yang lecet. Namun, tidak tertutup kemungkinan kasus seperti itu, yang telah dilihat oleh polisi, polisi meminta diselesaikan di kantor polisi, yang ujung-ujungnya bayar denda kepada polisi. Hal-hal kecil seperti inilah yang membuat masyarakat takut kepada polisi. Ditambah lagi membaca palang-palang atau pamflet milik kepolisian, semisal “Awas! Kantor Polisi!, Hati-hati, Anda Memasuki Kawasan Polisi Militer,” dan beragam tulisan serupa yang pada intinya memperingatkan masyarakat agar hati-hati dan awas diri dengan polisi. Jika hal seperti ini mesti dipertahankan, sampai kapan polisi dapat bermitra dengan masyarakat?
Gaya lain dari polisi adalah menganggap dirinya sangat profesional dalam menegakkan hukum. Hal itu terkadang mengesankan seolah polisi sangat lebih tahu soal hukum sehingga jika terjadi sesuatu dalam kehidupan bermasyarakat, polisi merasa berkewajiban ikut campur. Padahal, Inggris yang pertama sekali menerapkan sistem perpolisian tidak menganut paham seperti itu. Namun, Indonesia yang mencontoh Inggris harus memiliki polisi untuk kemaman lingkungan masyarakat, merasa lebih mengetahui seluk-beluk kehidupan masyarakat. Rasa lebih tahu inilah yang membuat polisi cenderung dibenci oleh masyarakat.
Di Inggris, patroli polisi dilakukan dengan sepeda dan jalan kaki pada setiap desa secara tetap. Polisi berkantor dan tinggal di desa. Semua itu bertujuan untuk mendekatkan diri dengan masyarakat sehingga polisi dapat menjadi mitra masyarakat. Sementara di Aceh, polisi patroli dengan mobil dinasnya, lalu membunyikan klakson yang menakutkan sehingga setiap melihat mobil polisi, masyarakat akan menyingkir ke tepi. Belum lagi mengingat sejarah patroli reo di zaman konflik di negeri ini. Sangking takutnya masyarakat kepada polisi atau tentara, masyarakat dapat menghapal reo siapa yang lewat. Jika klaksonnya berbunyi sekali tapi panjang, itu berarti reo tentara. Jika klaksonnya tiga kali, berarti reo polisi/Brimob. Sangking takutnya kepada polisi/tentara, masyarakat dapat menghapal reo siapa yang lewat hanya melalui bunyi klaksonnya. Maka saat itu, masayarakat hanya bisa mengintip dari sebalik gorden, menanti reo berlalu. Apakah ini yang dimaksudkan dengan aman berkat adanya polisi?
“Adaya polisi mesti berbaur dalam kehidupan masyarakat di tingkat desa. Karena itu, polisi adalah mitra masyarakat yang dapat memberikan kenyamanan dalam kehidupan warga masyarakat,” kata peneliti Polmas, Irjen Pol (Purn) Ronni Lihawa, dalam seminar oleh IOM tiga hari lalu. Berbicara keamanan dan kenyaman di Aceh, hemat saya justru setelah adanya polisi, masyarakat semakin was-was.
Sudah Selsai
Untuk kasus Aceh, masalah pengaturan keamanan dan kenyamanan dalam kehidupan masyarakat sebenarnya sudah selesai sejak dahulu kala. Katakanlah sejak kegemilangan Aceh, masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Di sana semua institusi hukum dan adat sudah terbentuk sehingga semua lini kehidupan masyarakat terjamin aman dan tenteram. Secara umum, semua itu termaktub dalam adat bak poteu Meureuhôm, hukôm bak Syiah Kuala; qanun bak Putro Phang, reusam bak lakseumana/bintara.
Dalam lingkup lebih kecil, di Aceh kita mengenal adanya Panglima Uteuen yang mengatur segala sesuatu tentang hutan dan kehutanan, yang di dalamnya juga ada Pawang Rimueng, Pawang Rusa, Pawang Bui, dan sejenisnya. Tujuannya adalah untuk menyelamatkan hutan dan seisinya di Aceh, yang mana Aceh kala itu memang dikeliling dengan hutan sehingga dikatakan dengan rimba raya. Sekarang saja hutan Aceh habis dibabat sehingga kita mengenal istilah banjir dan erosi, serta illegal logging.
Selanjutnya, untuk mengatur masalah pertanian dan perkebunan, di Aceh sudah ada Kujruen Blang, yang di dalamnya ada Pawang Glé. Untuk mengatur masalah laut dan segala devisa dari kelautan sudah ada Panglima Laôt. Untuk mengatur masalah pasar, sudah ada Haria Peukan. Dia mengatur segala ketertiban pasar, pajak, dan sejenisnya.
Nah, untuk tingkat keaman dan kenyaman di gampông pun, Aceh memiliki struktur adat yang sangat kuat. Aceh memiliki geuchik sebagai kepala pemerintahan di tingkat gampông, imuem mukim untuk tingkat mukim. Di samping itu, Aceh juga memiliki tuha peut dan tuha lapan sebagai instusi adat yang jika setarakan dengan DPR dan MPR, mereka adalah sama. Tuha peut adalah Dewan Perwakilan Rakyatnya dan tuha lapan merupakan Majelis Permusyawaratan Rakyatnya. Semuanya dipilih oleh masyarakat secara langsung, yang segala sesuatunya dilakukan dengan musyawarah. Tidak seperti polisi yang menganut sistem sentralistik.
Jika semua institusi adat di atas dijalankan dengan sebaik-baiknya, kita (baca: Aceh) tidak perlu lagi mengenal istilah polisi, dinas pertania, dinas pasar, dinas perkebunan, dan sebagainya, karena semunya sudah ada yang mengatur di Aceh, yang dipilih dan ditunjuk langsung oleh masyarakat setempat.
UU RI No.5/1979 Penghancur
Semua institusi pemerintahan adat mukim dan gampông di atas hancur sejak diterapkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1979. Undang-undang yang dicetuskan pada masa Orde Baru ini menyamaratakan semua sistem pemerintahan di Aceh dengan semua wilayah yang ada di Indonesia. Sistem pemerintahan menjadi sentralistik, di mana mukim dan gampông dileburkan menjadi istilah desa, lalu kebijakan hanya ada di tingkat atas, sementara masyarakat Aceh terus menjadi imbas kebijakan sepihak sentralistik Indonesia. Pemerintah mulai melegalkan HPH sehingga hutan Aceh hancur.
Sedih memang bila mengenang semua itu, yang ujung-ujungnya akan menimbulkan benci dan dendam kepada Negara Republik ini. Tapi sudahlah, tulisan ini bukan hendak membakar api dendam yang sudah lama kita padamkan. Melaui tulisan ini, saya hanya berharap, institusi adat di tingkat mukim dan gampông bisa kembali dijalankan semana mestinya.
Permainan Lama
Istilah Polmas saya kira hanya pergantian nama saja dari istilah lama. Jika yang dimaksudkan Polmas adalah polisinya masyarakat yang dipilih dari masyarakat setempat, makanya tidak diberikan gaji dan senjata, gaya ini sudah pernah diterapkan di Aceh masa Orba. Saat itu kita diperkenalkan istilah Pertahanan Sipil (Hansip), Keamanan Rakyat (Kamra), Perlawanan Rakyat (Wanra). Semuanya diambil dari masyarakat desa setempat, yang tidak dipersenjatai, kecuali sebuah pentungan kayu. Namun, perlu diingat, ruang gerak Hansip, Kamra, maupun Wanra, tetap bermuara kepada polisi. Sistem sentralistik tetap tidak berubah.
Untuk itu, saya katakan, Polmas hanya istilah baru dari permainan lama sistem pemerintahan ini. Yang diperlukan Aceh sekarang adalah diaktifkannya kembali intitusi adat di tingkat mukim dan gampông. Mereka juga memiliki sanksi hukum, bahkan sanksi adat bagi si pelanggar keamanan dan kenyaman di wilayahnya. Makanya dalam hadih maja Aceh dikenal istilah meulangga hukôm raya akibat, meulangga adat malè bak donya.
Jika isntitusi adat itu diterpakan kembali, pencuri ayam tidak mesti lagi dikurung dan dipukul dalam penjara, lalu hanya mendapatkan makanan sisa, sedangkan pencuri uang rakyat semakin bertebaran di mana-mana, karena yang paham tentang masyarakat di suatu tempat adalah orang-orang yang dipilih oleh masyarakat setempat, yang berbaur bersama masyarakat setempat. Jika lembaga-lembaga adat tersebut diaktifkan, masihkah Aceh butuh Polmas?

Penulis, Aktivis Jaringan Komunitas Masyarakat Adat (JKMA) Aceh dan Alumnus Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unsyiah.


Read More...

5 September 2008

Lamsulet

Cerpen Herman RN

Serupa pawai akbar tujuh belasan atau perayaan hari besar kenegaraan, mereka beramai-ramai ke rumah Tuhan. Yang laki-laki memakai peci, yang perempuan berkostum serba putih. Gerombolah itu beriringan menuju sebuah bangunan berkubah runcing. Ada gambar bulan dan bintang di puncaknya. Mereka sebut rumah itu dengan “masjid”.



“Bulan ini bulan mulia, bulan penuh rahmat, berkah, dan ampunan. Di bulan ini, telah ditutup pintu neraka dan pintu syurga terbuka lebar-lebar. Di bulan ini, segala jenis jin yang suka merayu manusia telah dirantai. Karenanya, mari kita perbanyak amal ibadah di bulan ini.” Seruan itu terdengar lantang dari pengeras suara yang dipajang di sebuah kubah masjid gampông Lamsulet.
Gampông itu terletak di sudut sebuah kota yang dulunya air laut pernah banjir di sana. Sejak air laut naik ke gampông mereka yang kemudian surut lagi, masyarakat gampông itu terlihat rajin memenuhi tempat-tempat ibadah, terutama sekali masjid, entahlah dengan gereja atau wihara.
“Apa benar di bulan ini, jin, syetan, dan segala jenisnya dirantai seperti pencuri yang ditangkap polisi?” ujar Dolah, seorang anak usia 13 tahun, sepulang dari masjid malam itu.
“Ya iyalah, ini kan bulan Ramadhan,” sahut Udin.
“Makanya, bulan ini kesempatan kita taubat, Dolah, karena kita sudah terlalu banyak buat dosa tempo hari,” timpal Saiful.
Dolah, Udin, dan Saiful merupakan tiga sekawan yang orang-orang gampông Lamsulet menjulukinya bak pinang dibelah tiga. Pasalnya, kemana-mana mereka selalu bertiga, bermain bertiga, mandi di sungai bertiga, mau pilih masjid untuk salat tarawih pun, bikin perjanjian bertiga. Mereka dijuluki seperti itu, karena jika ada yang mencari seseorang dari mereka, sangat mudah, tinggal bertanya pada yang duanya.
Seperti suatu hari, saat bunda Dolah sangat memerlukan Dolah untuk mengambilkan daun pisang, bunda Dolah sudah mencari ke sana sini, tetapo ditemui. Tapi, begitu ke rumah Saiful.. “Saiful, apa kamu ada melihat Dolah?”
“Tadi katanya dia pergi ke pasar, Makcek. Dia bilang Makcek yang suruh dia cari daun pisang untuk buat timpan,” jawab Saiful.
“Tak pintar-pintarnya anak satu itu. Disuruh ambil daun pisang di belakang rumah, malah mencari ke pasar,” kata bunda Dolah. “Ya sudahlah, Saiful, Makcek pulang dulu ya.”
Pernah juga suatu kali, Pak Imam mencari Udin. Setelah dicari dan ditanya kepada anak-anak seusia mereka, tetap ada yang tahu keberadaan Udin. Namun, setelah Pak Imam bertemu dengan Dolah, posisi Udin pun dapat dilacak. Begitulah mereka. Jika yang satu hilang, yang dua lagi pasti tahu ke mana hilangnya yang satu. Mereka pun digelar awak gampôngnya bak pinang dibelah tiga.
***
Malam berikutnya, rombongan serupa karnaval tujuh belasan kembali tampak menuju masjid gampông Lamsulet. Rombongan itu semakin terlihat ramai ketika pulangnya. Mereka jalan beringinan, yang perempuan keliahatan putih-putih, sedangkan yang laki-laki, peci mereka ada yang putih, ada yang hitam, sebagian tak berpeci, tapi masuk juga rombongan serupa pawai tersebut.
Malam itu, Udin, Dolah, dan Saiful tak langsung pulang ke rumah. Mereka berhenti di pos ronda gampông. Tak ada orang di sana, selain mereka bertiga. Kegiatan ronda malam, sejak masuk bulan puasa memang sudah ditiadakan di gampông itu. Padahal, sebelumnya dilaksanakan ronda malam keliling desa oleh kaum pemuda dan bapak-bapak. Bukan karena perintah polisi atau tentara seperti waktu gampông Lamsulet masih dalam konflik, tapi inisiatif orang gampông sendiri menggelar ronda malam. Pasalnya, di gampông mereka kerap terjadi pencurian. Namun, sejak masuk bulan Ramadhan, kegiatan itu ditiadakan. Alasannya, menurut Pak Geuchik, nyaris sama dengan ceramah Pak Imam malam kemarin, karena bulan puasa adalah bulan rahmat, syetan dirantai dan dipenjara. Jadi, takkan ada syetan yang berkeliaran, yang bakal menggoada manusia-manusia untuk mencuri.
“Dolah, kulihat kelapa-kelapa Teungku Husen yang di kebun lebat sekali sudah buahnya. Bagaimana?” ujar Udin, sejenak setelah duduk di balai pos jaga. Matanya mengerdip ke arah Saiful. Saiful hanya tersenyum sambil menghempaskan juga pantatnya di bala jaga tersebut.
“Tak tahulah aku bagaimana bisa lebat. Kelapa di belakang rumahku, sudah tiga bulan tidak ada yang bisa diambil buahnya. Belum sempat tua, sudah duluan dibolongin tupai.”
“Bukan lebatnya yang kutanya, Pantengong! Maksudku, bagaimana kalau kita petik beberapa buah. Lumayan untuk jajan lebaran nanti.”
“Begini, Dolah,” sela Saiful. “Maksud Udin, kita hanya memetik beberapa buah, lalu kita jual. Uangnya kita tabung untuk jajan lebaran.”
“Aku tak mau!”
“Alah kau.. sok alim pula kau kali ini kutengok. Biasanya, kalau ada target, kau yang duluan semangat,” sergah Udin.
“Tapi, ini kan bulan puasa, nanti puasa kita bisa batal. Kata Pak Imam, pahala puasa kita bisa berpindah ke orang lain. Tingkat membicarakan aib orang saja, pahala puasa kita pindah ke orang yang kita bicarakan itu. Jadi, kalau kita mencuri kelapa Teungku Hasan, berarti pahala puasa kita akan pindah sama dia.”
“Hahahaha… keciprat ilmu dari mana kau?! Eh, Dolah, kamu mimpi baca kitab apa semalam, ha?”
“Bukan, tapi itu kata Pak Imam. Bunda juga bilang begitu kok.”
“Hem.. begini, kawan, kita puasa itu kapan?”
“Sekarang, selama bulan Ramadhan,” jawab Dolah.
“Bukan itu, maksudku, kita puasa, menahan lapar dan haus itu siang atau malam?” Udin mulai geram mendengar jawaban bodoh temannya itu.
“Siang,” sahut Dolah mantap.
“Itu artinya kita puasanya siang. Nah, ini kan waktunya malam, berarti tidak ada yang batal malam ini, sebab puasa itu siang, Dolah.”
“Tapi…”
“Lagian, kita hanya mengambil beberapa buah dalam satu batang. Mungkin bisa jadi dalam satu batang kita petik dua atau tiga saja agar tak tanda Teungku Hasan kalau kelapanya ada yang petik. KITA panjat tiga batang malam ini. Lagian, kau ingat kan, beberapa kali kita minta sebuah kelapa muda untuk minum buka puasa pada Teungku itu, tak pernah diberikan sekali pun. Itung-itung malam ini kita kasih pelajaran bagi dia,” ucap Saiful.
Akhirnya, malam itu mereka jadi mengambil kelapa Teungku Hasan. Seperti biasa, Dolah kena tugas tukang panjat, sedangkan Udin menanti di bawah pohon sebagai tukang pilih, dan Saidul di pinggir jalan mengawasi kalau-kalau ada penduduk yang melintas.
Dolah menyiapkan pelepah daun pisang sebegai tali penyangga kakinya. Dia siap memanjat. Satu batang kelapa sukses diambil hasilnya. Tiga buah kelapa sudah disembunyikan di sebalik semak. Pohon kedua juga berhasil dipetik tiga buah kelapa. Namun, saat Dolah memanjat pohon ketiga, baru sampai setengah, terdengar suara teriakan “maling”.
Udin berlari ke arah Saiful di pinggir jalan. Saiful yang lebih tua setahun dari Udin dan Dolah cepat menyikapi suasana. Didekatinya pohon kelapa yang dipanjat Dolah. “Tenang! Tenang! Bukan kita. Warga mengejar seseorang yang lari dari kandang ayam Pak Imam,” ucapnya sambil mendongak ke atas, ke arah Dolah.
Suara teriakan maling, pencuri, semakin terdengar jelas ke arah mereka. “Pancuri.. pancuri.. maling.. tangkap…”
Entah siapa memberi komando, Udin menghambur ke balik pohon kelapa yang dipanjat Dolah, sedangkan Saiful menyelinap di balik parit jalan. Di atas pohon kelapa, Dolah hanya bisa menahan getar kakinya. Dari atas pohon itu, dia melihat jelas serombongan orang sedang mengejar seseorang yang berlari ke arah kebun Teungku Hasan. Dolah menahan napas. Kakinya menggigil hebat.
Tak jauh dari tempat persembunyian Saiful, seorang lelaki terjerambab. Sebelah kakinya menyepak buah kelapa yang disembunyikan Udin di balik semak. Saat itu pula orang-orang yang menjerit dan mengejar menangkap pencuri itu. Si pencuri dihajar hingga babak belur. Dolah melihat jelas kejadian itu sembari berusaha menaham gigil kakinya. Selepas dihadiahi bogem mentah, pencuri itu dibawa ke balai desa. Saat orang-orang meninggalkan lokasi itulah, Dolah turun perlahan.
Malam itu, mereka tidak mengambil kelapa yang sudah berhasil mereka petik. Ketiganya memilih pulang sambil membawa ketakutan masing-masing. Dolah yang menyaksikan dengan jelas adegan pemukulan terhadap pencuri ayam Pak Imam bergumam tidak akan mencuri lagi. Dia membayangkan jika malam itu ketahuan oleh warga mencuri kelapa Teungku Hasan, pastilah tamat riwayatnya.
Keesokan harinya, Dolah pergi ke sungai pagi sekali. Selepas salat subuh, dia langsung menuju sungai hendak mandi. Dia belum berani melihat wajah warga, makanya memilih mandi pagi-pagi sekali. Tapi, di sungai dia tetap menemukan seorang warga gampôngnya. Lelaki itu dilihatnya sedang mengangkat bubu dari sungai.
“Teungku Hasan?!” ujarnya setengah menjerit.
Lelaki yang ditegur seketika melihat ke arah Dolah. Hanya sesaat. Menyadari yang menegurnya seorang anak kecil, Teungku Hasan melanjutkan kerjanya. Dia mengangkat bubu kembali, menuangkan isinya di tanah.
“Teungku, mengapa diangkat bubu Pakcek Karmin. Eh, Teungku mengambil ikan-ikannya ya? Kan bisa batal puasa, Teungku.”
“Hust.. anak kecil tahu apa kamu. Kalau mau mandi, mandi saja sana. Setelah itu, pergi sekolah. Nanti telat.”
Dihardik seperti itu, Dolah diam. Dia mandi, lalu bergegas pulang. Dalam hati dia sempat berpikir, pantas Teungku Hasan selama bulan puasa ini menjadi tukang jual ikan. Rupanya dia mengambil ikan dari bubu Pak Karmin. Dolah pernah mendengar dari Teungku Hasan kalau dirinya menjual ikan selama bulan puasa sambil melalaikan puasa. “Kerja menjual ikan hanya duduk-duduk sambil menunggu waktu dhuhur. Daripada duduk di balai jaga, yang ada hanya membicarakan aib orang lain, kan lebih baik buka dagangan ikan di depan rumah. Modal kita hanya sebuah meja kecil dan selembar goni untuk tempat ikan. Kita terhindar dari menggunjing, rezeki pun datang,” ucap Teungku Hasan.
***
Di sekolah, Dolah, Udin, dan Saiful, kembali mendengar nasihat sama dari gurunya agamanya seperti yang diutarakan Pak Imam malam kemarin. “Bulan Ramadhan ini, kita perbanyak amal ibadah, mumpung syetan-syetan yang biasa menggoda manusia sedang dirantai oleh malaikat-malaikat Allah,” kata guru mereka.
“Bu, apa betul syetan dan jin dirantai?” tanya Dolah saat diberi kesempatan bertanya.
“Ya, benar sekali. Semua jenis syetan dirantai dengan rantai yang besar.”
“Berarti seyetan tidak bisa menggoda manusia selama bulan puasa ini ya, Bu, karena kakinya dirantai?”
Guru agama itu mengangguk mantap. “Lantas mengapa masih ada yang mencuri ayam di rumah Pak Imam kemarin malam, Bu?” kata Dolah cepat. “Terus, mengapa masih ada yang mengambil ikan di bubu orang lain di bulan ini, Bu? Terus, kalau ada yang berpikir mencuri-curi minum sewaktu puasa, itu bukan karena godaan syetan ya, Bu? Jadi, siapa yang goda, Bu? Apa malaikat? Terus, kalau mencuri waktu malam, masih bisa ya, Bu, karena puasanya cuma siang? Terus…”
Guru agama mendehem. Dolah tak jadi melanjutkan kalimatnya. Hening. Anak-anak di ruangan semua sedang menunggu jawaban dari guru agama mereka.

Jumat, 5 Sep ’08, pukul 00:00-02:25 WIB

Read More...

Kursi

Oleh Herman RN

Macam cara orang mencari sensasi. Entah karena bulan ini disebut suci. Yang jelas, demi kursi, banyak cara dilakukan. Perkara halal-haram mungkin urusan kedua, yang penting mendapat muka. Entahlah.



Kursi hanya sebuah benda. Nyaris di setiap rumah ada kursi. Persoalan kursi empuk atau kursi kayu, ini dia yang sedang hangat-hangatnya di kampong kita. Apalagi, kalau dikatakan kursi basah, meski tidak disiram air, tetap basah untuk diperebutkan. Maka, tarik ulur memperlihatkan wajah garang sudah menjadi salah satu jalan.
Pengorbanan, itulah yang terdepan. Kalau perlu mengorbankan kepunyaan pribadi. Jika kepunyaan pribadi bisa dikorbankan, mengapa tidak kepunyaan lembaga? Hehehe.. Akhirnya, aksi turun menurunkan bendera lawan pun terjadi.
“Ya, mulai saja dengan menurunkan bendera lawan. Biar bendera kita saja yang berkibar,” kata Apa Ta’euen pada teman-temannya.
Itu pun terjadi. Hari ini bendera kelompok Apa Caplok diturunkan, besoknya giliran bendera Apa Bangai. Eh, tak tahunya, kelompok Apa Caplok dan Apa Bangai semakin terkenal di masyarakat. Dua kelompok ini mulai mendapat simpati dari masyarakat. Sejumlah media pun mulai menjadi juru kabar memperkenalkan dua kelompok yang mendapat perlakuan tak sehat dalam persaingan kursi tersebut.
Apa Ta’euen mulai putar otak. Akhirnya, keesokan hari, dia memerintahkan anak buahnya untuk memotong bendera kelompok sendiri. Tentu saja hal ini sangat mengejutkan anak buah Apa Ta’euen. Namun, setelah dijelaskan bahwa ini salah satu mencari sensasi, pahamlah para anak buah tersebut. Walhasil, jika Apa Ta’euen hanya memerintahkan potong tiang bendera, anak buahnya malah membakar bendera tersebut.
Menyikapi tingkah polah anak buahnya yang membakar bendera sendiri, Apa Ta’euen tidak marah. Dia malah senang. Sembari mengusap bulu halus di bawah dagu, Apa Ta’euen berujar, “Besok, bendera-bendera kita yang di ujung lorong kampong tetangga itu, semuanya diturunkan, bakar semua, biar masyarakat simpati kepada kita,” ucapnya serius.
Demikianlah sejurus dongeng di kampong ini. Semua demi kursi. Tak puas mengumbar janji, korbankan milik lembaga sendiri. Yang penting dapat simpati. Kalau perlu, sekaligus dengan empati. Maka, berlagaklah Apa Ta’euen seperti ureueng nyang tueng bila. “Ini sudah bisa bagi kami. Kami tak marah tiang bendera kami ditebang, bendera kami dibakar. Kami percaya Tuhan bersama yang benar,” katanya membawa nama Tuhan segala dalam kancah ‘kursi’.
Ah, kawan saya pernah menyatir, bahwa dalam kancah memperebutkan kursi, jual menjual ayat sudah menjadi rahasia umum. “Mencari ayat yang ada kaitannya dengan bendera lembaga, lambang lembaga, adalah kebiasaan pada merekea (pengerja kursi) itu sejak dari dulu,” kata teman saya.
Mungkin teman saya benar, sebab sedari dulu pula, indatu pernah berujar, “Ureueng malém peudeuh peungeuh, ureueng ceubeueh peudeuh nyang tueng bila.” Seolah-olah dialah udangnya, yang lain ikan, seakan dialah yang malang saja (sehingga butuh ditolong dan disokong), yang lain hidup dalam bahagia. Ah… kursi…



Read More...

3 September 2008

Inong

Haba Herman RN


Paléh tanoh cöt teungoh kureueng asoe,
Paléh inong jiteumanyong ‘oh jiwoe lakoe,
Paléh agam sipeut kuwah bileung asoe,
Paléh rakyat jimeu-upat rata sagoe,
Paléh raja jideungo haba baranggasoe



Saya sadar, ini bulan puasa. Tak baik membicarakan orang lain, apalagi menyangkut aibnya. Namun, saya kira, selama ruang ini bernama cang panah—dan anggaplah selalu hanya cang panah, serta selama tak punya maksud apa-apa selain berharap dapat menjadi nasihat dan ada hikmah yang dapat dipetik, maka izinkahlah saya sedikit berceloteh tentang “Inong” di Aceh, di kampong kita yang masgul ini.

Dalam sebuah kisah disebutkan bahwa inong Aceh sangat gagah dan penurut kepada suami. Sangking mulianya inong Aceh (perempuan Aceh) tersebut, sebuah hadih maja mengatakan pilihlah perempuan Aceh yang benar-benar Aceh. “Meunyo ie, ie bit. Meunyo bu, bu bit. Meunyo inong, inong Aceh beukeubit-keubit,” kata hadih maja itu.

Tergambar jelas betapa hebatnya inong Aceh dalam banya buku sejarah. Rasanya kita pasti selalu ingat bagaimana inong-inong Aceh dimaksud seperti Cut Nyak Dhien, Keumalahayati, Cut Meutia, Pocut Baren, dan sejumlah nama lainnya yang tak cukup kolom ini jika saya rincikan satu per satu.

Selain itu, penghargaan Aceh terhadap inong tak pula patut diragukan. Jika di seberang sana dan seberang sini sibuk memproklamirkan perempuan harus dibela, derajatnya harus diangkat, Aceh sudah duluan melakukan itu. Bahkan, jika dikatakan perempuan juga bisa memimpin, di Aceh sudah duluan ada kesultanan yang dipimpin oleh seorang perempuan. Sekali lagi, di ruang ini tak perlu kita uraikan satu per satu sultanah tersebut.

Haba ini sekedar mengingatkan betapa Aceh telah menjunjung tinggi inong-inongnya. Bahkan, dalam pergerakan saja ada istilah “Inong Bale”, tidak ada istilah “Agam Balee”. Nah, ketika inong sudah naik ke atas kepala, mestikah ia masih dijunjung?

Maaf, jangan marah dulu, hai aktivis pembela perempuan dan para para perempuan Aceh. Saya tanyakan seperti itu, karena kita di Aceh mulai disiguhkan film “Suami-Suami Takut Istri”. Padahal, kita tahu benar tidak ada film “Istri-Istri Takut Suami”.

Perkara inong-inong seperti ini biasanya ketika dia meminta sesuatu maka mesti didapatkannya sesuatu itu. Saya tahu, tidak semua inong Aceh seperti ini. Tapi, di sebuah kampong, sudah menjadi rahasia umum, seorang suami akhirnya jadi buronan polisi karena mematuhi perintah sang istri (inongnya).
Ceritanya begini, si inong meminta suaminya agar membawa pulang uang banyak. Tanpa ditanya dari mana uang itu berasal, si inong terbuai dengan uang banyak tersebut. Dia membeli sebuah toko, mobil, dan HP.

Kata pepatah, “Sepandai menyimpan bangkai, pasti tercium juga.” Inilah yang menyertai keluarga si inong. Kendati suaminya telah berhasil memalsukan tanda tangan seorang pejabat berwenang di negeri ini hingga mampu mengecoh sebuah bank untuk mencairkan lebih satu miliar rupiah uang, kerja buruknya tercium juga oleh kepolisian. Sayangnya, si inong kena getah. Kemarin, si inong itu disidang dan resmi dijebloskan ke penjara, sedangkan si lakoe, sampai sekarang masih DPO kepolisian.

Artinya, si lakoe dan si inong sama saja. Yang satu barangkali sifeut kuah bileueng asoe, yang satunya suka teumanyoeng ‘oh jiwoe lakoe. Akhirnya, keciprat menetap di rumoh peut sagoe. Untuk itulah, kearifan ureueng Aceh mengatur tatanan hidup manusia agar menyelaraskan segala sesuatu dengan benar. Misalnya, saat bulan puasa seperti ini, suami tidak mesti menuntut istri harus mempersiapkan bekal puasa nikmat-nikmat melulu dengan jumlah banyak. Demikian halnya si istri, tentu tak harus menuntut terlalu bayak dengan kemampuan suami yang alakadarnya mencari rezeki. Sebab, kata indatu, “Paléh tanoh cöt teungoh kureueng asoe, paléh inong jiteumanyong ‘oh jiwoe lakoe, paléh agam sipat kuwah bileung asoe, paléh rakyat jimeu-upat rata sagoe, paléh raja jideungo haba baranggasoe.”



Read More...

2 September 2008

Bakar

Haba Herman RN

Mendengar kata “bakar” tentu erat kaitannya dengan api, karena haya apilah yang mampu membakar sehingga jika ada ungkapan, “Wajahnya merah seperti api,” disematkan dengan maksud, “Hatinya sedang terbakar.”



Saya kira tak seorang pun mau kepunyaannya terbakar, apalagi dibakar. Orang akan merasa sedih jika seuatu miliknya terbakar atau dibakar. Jangankan rumah dan harta benda lainnya, setingkat hati saja (yang masih abstrak bagaimana wujudnya saat terbakar), orang tak rela. Bahayanya, jika hati sampai terbakar, baranya bukan lagi berupa arang, melainkan dendam. Itu makanya, orang Melayu punya kepintaran dalam hal ‘bakar-membakar hati’ ini dengan ungkapan “Jangan mengerkah, nanti ditampar pipi. Jangan membakar, nanti dililit puntung.”

Namun demikian, dalam kearifan lain, dikatakan bahwa terkadang kita memang harus membakar sesuatu milik kita. Sesuatu dimaksud adalah ilmu. Kata pepatah, “Kemenyan sebesar lutut, kalau tak dibakar tak mungkin berbau.” Pepatah ini mengandung makna kias yang berarti “Jika memiliki ilmu mesti dimanfaatkan (dibakar), jika tidak sama saja tak ada gunanya.”

Demikian hebatnya Allah swt. mengatur alam. Sesuatu yang mulanya hanya menjadi makna negatif dan tak diinginkan manusia, akhirnya mesti dilakukan juga. Sesuatu perbuatan yang mulanya dilarang dilakukan manusia, yaitu membakar, akhirnya manusia mesti melakukannya.

Ya, kita mesti membakar milik kita itu, yakni ilmu, tentunya ke arah yang positif. Lebih baik membakar ilmu yang dimiliki ke hal-hal positif daripada membakar rumah penduduk, tentunya.

Di bulan ini, ada lagi “bakar” yang disukai umat Muslim sedunia. Dengan sebuah tingkah tanpa menggunakan api, sesuatu itu sudah terbakar. Orang tidak mesti membakarnya, tetapi tetap juga akan dibakar. Mulanya ‘harta’ yang satu ini dikumpulkan oleh manusia, baik sengaja atau pun tidak. Namun, di bulan ini, manusia menginginkan ‘harta’ yang dudah terkumpul tersebut untuk dibakar. Untuk itu, mereka sesuatu pula agar miliknya itu dibakar. Sesuatu yang menjadi ‘harta’ terkumpul sengaja dan tidak itu adalah dosa.

Sebuah keniscayaan setiap manusia di dunia ini memiliki dosa, apalagi manusia-manusia yang hidup di zaman sekarang. Saya, Tuan, dan mereka, sebagai manusia biasa, sudah pasti memiliki dosa. Hal ini selaras dengan hadis Rasulullah saw. “Setiap bani Adam pasti berdosa dan sebaik-baiknya yang pasti berdosa ia bertubat,” (HR. Mutafaqun Alaihi).

Dosa itu milik kita yang tak tampak, tetapi yang satu ini, saya yakin, kita suka jika dibakar oleh Allah swt. Karenanya pula, untuk membakar dosa-dosa itu, umat Mukmin bansigom donya di bulan ini melaksanakan ibadah puasa dan amal-amal saleh lainya, sebab bulan ini memang bulan pembakaran dosa. Semoga saja dosa-dosa kita “terbakar” bersama ibadah yang kita laksanakan. Amin..

Read More...

Memikat Laporan Perjalanan dengan Gambar

oleh Herman RN*

Peristiwa dahsyat akhir Desember 2004, gempa bumi disusul gelombang tsunami yang berpusat di pantai Barat Aceh telah dinabalkan dunia sebagai musibah internaional sepanjang abad modern. Boleh jadi sebagai musibah terdahsyat sepanjang pascazamannya para nabi. Kendati ada yang menyebutkan tsunami sudah pernah terjadi lima ratus abad silam, namun tak ada bukti konkret untuk dipercayai. Maka, membukukan sejumlah kenangan tsunami 2004 merupakan upaya pembuktian sejarah bahwa di Aceh pernah terjadi musibah terdahsyat sepanjang abad.



Sejumlah kerusakan melanda Bumi Iskandar Muda akibat musibah itu, mulai kerusakan infrastruktur, sarana dan prasarana, hingga kerusakan moral. Data Plan Internaional menyebutkan lebih dari setengah penduduk Aceh berada di bawah kemiskinan pascamusibah. Karena itulah, ada yang menyebutkan peristiwa terdahsyat ini menambah degradasi sosial kehidupan di Aceh sebagai pelengkap penderitaan rakyat Aceh yang selama dua puluh tahun terkahir dikecam murung di bawah tekanan koflik antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka.
Namun, bukan suatu kesalahan pula bila kita sebut peristiwa tsunami ini sebagai pengulang kegemilangan Aceh setelah sejarah Iskandar Muda. Hal itu kita lihat dari beberapa pembangunan di Aceh. Beragam bantuan kemanusiaan mengalir lekas menjadikan Aceh sumber dana. Sejumlah NGO lokal, nasional, dan internasional pun tercipta. Menurut data Plan Internasional, sampai Maret 2006, terdata 124 NGO internasional dan 430 NGO lokal.
Kecuali itu, yang membuat saya berasumsi Aceh akan mencapai kegemilangannya kembali pascamusibah dahsyat itu dapat dilihat delapan bulan setelah musibah berlalu; RI dan GAM resmi berselaman (baca; damai).
Mengalirnya bantuan ke Aceh, ditekennya MoU RI dan GAM, menjadikan Aceh kembali hidup dan lepas dari kemurungan. Namun, tak cukup sampai di situ, karena pengaliran bantuan tersebut tidak menutup kemungkinan lahirnya agen-agen baru pencipta korupsi di negeri ini. Menyikapi itu, LSM antikorupsi pun ikut bertaburan. Di tubuh BRR sendiri--induknya para NGO--juga terdapat kelompok yang menyidiki korupsi. Mereka beri nama dengan Satuan Kerja (Satker) antikorupsi BRR NAD-Nias.
Semua peristiwa tersebut, baik kehancuran maupun proses rehab-rekon, bila tidak didokumentasikan akan menjadi sebuah dongeng. Seperti saya sebutkan pada pembuka tulisan ini, disebutkah sudah pernah terjadi tsunami ratusan abad silam, tapi tidak dapat dibuktikan. Maka, penting mendokumentasikan tsunami kali ini sebagai sebuah cerita sejarah.
Pendokumentasian dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik visual, audio, maupu audioa visual. Dokumentasi sederhana adalah menuliskannya menjadi sebuah buku. Itu pula yang dicobahadirkan Plan Internasional dalam tindak-tanduknya selama berada di Aceh dalam rangka memberi bantuan kemanusiaan.
Beragam cerita di atas, mulai dari minggu-minggu pertama pascagempa sampai dengan tahun ini, serta apa-apa program kerja Plan, dibeberkan secara rinci dalam buku yang diberi judul “Ranub Lampuan Plan Aceh”. Buku yang diterbitkan oleh NGO Plan Internasional itu memaparkan kiprah mereka sebagai salah satu lembaga non-pemerintah yang membantu pemulihan Aceh pascagempa dan tsunami.
Secara detail buku tersebut membeberkan apa saja yang telah dilakukan oleh Plan; hasil, harapan, hambatan, dan tantangan, semuanya dipaparkan secara rinci dan jelas. Memperkuat data mereka, buku itu juga turut megutip beberapa fakta yang dikumpulkan oleh NGO lain, seperti terlihat pada halaman 27. Memperkuat hasil survey mereka terhadap bantuan rumah korban tsunami, Plan mengutip hasil telusuran UN-Habitat.
Plan Internasional sebagai sebuah lembaga kemanusiaan internasional yang fokus pergerakannya di dunia anak-anak mencoba menerbitkan buku laporan pergerakan atau kiprah mereka dengan menghadirkan karikatur. Hal ini tentunya untuk menarik pembaca. Apalagi, fokus mereka memang dunia anak. Membaca cerita bergambar memang sudah menjadi kegemaran anak-anak, bahkan yang dewasa pun ada yang suka. Maka, serasi sekali laporan itu dipadukan dengan kartun-kartun lucu di lembarannya.
Sangat jarang kita temui sebuah buku laporan program kegiatan diterbitkan dengan melampirkan cerita-cerita bergambar. Inilah yang dicoba tawarkan Plan sehingga menjadi menarik untuk disimak. Hal ini membuat buku tersebut tidak kelihatan serupa laporan lembaga kepada masyarakat, melainkan sebuah cerita perjalanan yang asyik untuk diikuti. Bagi anak-anak sendiri, gambar tersebut menjadi perhatian mereka. Apalagi, gambar-gambar itu turut dilampirkan cerita dan dialog singkat. Cerita yang dihadirkan gambar-gambar itu memiliki keterkaitan dengan narasi laporan. Maka, buku ini layak kita sebut sebagai sebuah semi komik modern.
Tidak semua orang suka mengikuti atau membaca buku laporan perjalanan tugas sebuah lembaga, apalagi lembaga semacam NGO. Asumsi bahwa sebuah laporan cenderung ditulis dengan gaya monoton, hanya dapat dimengerti oleh orang-orangnya, sudah mendarahdaging di benak kita. Namun, kehadiran buku Plan ini mencoba menapikan asumsi itu. Ia mencoba menawarkan ilustrasi gambar komik yang hadir hampir di setiap lembarannya. Jika halaman di kanan adalah narasi atau isi cerita, di halaman kiri akan diberikan ilustrasi menarik. Jika dua halaman berisi narasi, pada dua halaman berikutnya diberikan ilustrasi. Ilustrasi-ilustrasi tersebut juga menghadirkan narasi singkat. Semua itu, semata-semata untuk menarik pembaca shingga asumsi membaca laporan program adalah monoton dicobahancurkan oleh Plan lewan “Ranub Lampuan”. Semakin menarik lagi, kramagung (narasi) dan wawancang (dialog) dalam cerita bergambar dihadirkan berbau satire. Hal ini menambah ketertarikan pembaca untuk membalik halaman berikutnya guna mengikuti cerita buku tersebut.
Membaca cerita gambar di dalam “Ranub Lampuan” ini kadang juga membuat kita tersenyum sendiri, sebab di samping gambarnya yang berupa karikatur lucu, narasi dan dialognya juga bernada sindirian satire. Apa yang dipaparkan dalam laporan tentang kejanggalan-kejanggalan sosial, pada ilustrasinya dipertegas lagi dengan gambar dan narasi menyindir. Bahkan, beberapa ilustrasi sengaja diciptakan mengandung keidentikan. Misalkan, koruptor identik dengan tikus, maka gambar sang koruptor dibuat berwajah menyerupai tikus.
Selain itu, sindirian satire berupa narasi dan dialog dapat dilihat seperti pada halaman 18, 24, 25, 37 dan beberpa halaman lainnya. Hampir di setiap ilustrasi, sindiran satire dilontarkan, baik kepada pihak pendatang maupun bagi masyarakat dalam sendiri.
Di samping karikatur sebagai ilustrasi, dalam buku itu juga dilampirkan data-data dalam bentuk tabel dan diagram batang. Hal itu boleh dilihat pada beberapa halaman, seperti halaman 23; tabel kerusakan, kebutuhan, dan kemajuan yang dicapai Aceh. Kemudian halaman 34 dan 35; diagram persentase kondisi gizi anak-anak.
Melengkapi data dan hasil kerja demi memudahkan pembaca, beberapa halaman bagian akhir turut dilampirkan kamus singkatan yang dipakai dalam cerita buku itu, tabel kerangkan kerja, framework, logical framwork, impact monitoring, matrik integrasi, dan grafik capaian yang dilakukan Plan. Hal ini tentu menjadi berguna bagi beberapa lembaga lain dalam membuat kerangka kerja.
Di samping itu, beberapa upaya pengurangan terhadap risiko bencana juga turut menghiasi buku ini. Jumlah dana yang dikeluarkan Plan selama membantu kemanusiaan di Aceh, pun turut melengkapi “Ranub Lampuan”. Gagasan-gagasan tentang upaya pengurangan akibat yang ditimbulkan suatu bencana di Aceh dipaparkan secara per poin pada halaman 67. Kemudian diperkuat dengan pemaparan apa-apa yang telah berhasil dan tidak berhasil dilakukan Plan di Aceh dalam menjalankan programnya.
Artinya, Plan mencoba tidak menutup-nutupi langkah mereka di Aceh, meskipun hal yang tidak berhasil mereka lakukan. Hal ini tentunya salah sat upaya Plan menghindari dari tindak korupsi. Maka, tak salah jika saya katakan yang dilakukan Plan merupakan sebuah sikap yang patut ditiru lembaga lain, bahwa tidak perlu menutup-nutupi apa yang sudah, sedang, dan tidak dapat dilakukan.
Pada akhirnya, saya hendak mengatakan “Ranub Lampuan Plan Aceh” bukan sekedar laporan kerja biasa, tetapi juga boleh jadi cerita perkembangan Aceh pascatunami yang tokoh utamanya adalah Plan, sebuah lembaga kemanusiaan bergerak di bidang anak-anak. Karena itu, buku ini menarik dibaca oleh siapa saja, baik bagi anak-anak maupun orang dewasa, juga bagi pekerja/ lembaga kemanusiaan.

Beberapa Catatan
Kendati “Ranub Lampuan Plan Aceh” menarik dibaca siapa saja, ada beberapa hal yang menjadi catatan,

1. Sebagai sebuah buku yang sengaja dihadirkan untuk semua kalangan, tentunya penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar menjadi perhatian. Ada beberapa penulisan kosakata baku bahasa Indonesia yang belum dipahami oleh si penulis buku. Barangkali jika penulisan yang salah terdapat pada cerita gambarnya, tidak terlalu menjadi persoalan. Namun, menjadi terganggu ketika didapati pada laporan narasinya.
Beberapa kata tersebut yang berhasil saya tangkap, seperti; kerjasama (seharusnya kerja sama), resiko (mestinya risiko).
2. Kesalahan serupa juga terdapat pada penggunaan huruf kapital. Kata “tsunami” tidak mesti selalu diawali dengan huruf kapital, kecuali ia di awal kalimat. Penggunaan kapital yang salah juga terlihat pada penulisan nama geografi atau tempat. Misalnya, Kabupaten Aceh Besar. Huruf “K” pada kata kabupaten mesti ditulis kapital, karena dia diikuti nama geografi.
3. Selanjutnya, penulisan “di” sebagai kata depan (preposisi) mesti dipisahkan dengan kata yang mengikutinya, kecuali “di” sebagai awalan (afiksasi). Dalam buku itu, boleh dilihat salah satunya pada halaman 31. “Gizi untuk anak-anak di bawah (ditulis: dibawah) lima tahun dan di atas (ditulis: diatas) lima tahun.
4. Masih mengenai kebahasaan, pada halaman pembuka terdapat bait kata yang ditulis dengan bahasa Aceh. Penulisan tersebut masih terdapat kesalahan. Seyogyanya bertanya dahulu kepada yang mahir bahasa Aceh jika memang hendak melampirkan bahasa Aceh.

Catatan mengenai kebahasaan ini menjadi penting diketahui, karena buku tersebut bukan karangan fiksi yang cenderung mengabaikan kaidah bahasa. Data dan fakta dalam cerita menunjukkan buku itu boleh menjadi karya ilmiah, kendati bukan tingkat tinggi. Ini juga menjadi berguna sebagai sosialisasi bahasa Indonesia kepada pembaca.

Catatan berikutnya barangkali dapat dilihat pada beberapa ilustrasi, terutama ilustrasi pada bagian-bagian awal. Goresannya yang halus membuat gambar bagus. Namun, tulisan yang disajikan sangat kecil, bahkan cenderung kabur dan padat (kelihatan semak), seperti pada halaman 18, 24, 25, 29, 58. Jika gambar dan tulisan itu diperbesar, mungkin akan kelihatan lebih menarik, sebab buku ini bukan komik murni. Gambar-gambar itu sengaja dilampirkan sebagai penarik mata pembaca, terutama anak-anak. Makanya, jika dibuat lebih besar, anak-anak akan lebih suka.

Berikutnya perlu juga mempertimbangkan jenis kertas. Dengan ilustrasi hitam-putih memakai kertas minyak, jika dibaca di bawah lampu akan silau. Sedangkan untuk sampul (kover) sudah bagus. Hanya saja bentuk buku secara keseluruhan mungkin masih dapat dipertimbangkan. Jika kita katakan dongeng anak, tentu hendaknya sedikit diperbesar. Sedangkan jika disebut sebagai buku laporan, bentuknya dipertimbangkan lagi. Wallahualam bisshawab.

*Herman RN, Sarjana Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Read More...